Berita, Timur Tengah

Iran Siap Siaga Hadapi Kecurangan AS dan Israel, Negosiasi Tergantung Gencatan Senjata di Lebanon, Tim Belum Dikirim ke Islamabad

Repelita.net

11 April 2026 14:31 WIB • 1,000 view

Iran Siap Siaga Hadapi Kecurangan AS dan Israel, Negosiasi Tergantung Gencatan Senjata di Lebanon, Tim Belum Dikirim ke Islamabad
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Guna mengantisipasi setiap kemungkinan tak terduga yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel dalam upaya gencatan senjata, Republik Islam Iran memastikan bahwa pihaknya siap siaga menghadapi segala skenario.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa perundingan untuk mengakhiri perang bergantung sepenuhnya pada kepatuhan AS terhadap komitmen gencatan senjata di semua lini, khususnya di Lebanon.

ADVERTISEMENT

Baqaei mengutuk keras kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis di Lebanon dan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para martir serta rakyat Lebanon.

Ia memuji perlawanan legendaris rakyat Lebanon terhadap kebiadaban dan ekspansionisme rezim Zionis, serta solidaritas mereka kepada Iran selama agresi militer AS-Israel.

“Saat ini solidaritas dan simpati antara rakyat Iran dan Lebanon lebih besar daripada kapan pun dalam sejarah,” katanya dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Mengenai isu gencatan senjata, Baqaei menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon merupakan bagian integral dari kesepahaman yang diusulkan Pakistan.

Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk menghentikan perang di semua lini termasuk Lebanon, dan setiap tindakan yang bertentangan berarti AS tidak mematuhi komitmennya.

Ketika ditanya tentang tempat dan waktu pembicaraan pengakhiran perang dengan AS, Baqaei mengatakan bahwa pemerintah Pakistan telah mengundang kedua pihak ke Islamabad.

"Tetapi tanpa ragu, penyelenggaraan pembicaraan apa pun bergantung pada jaminan pemenuhan kewajiban AS mengenai gencatan senjata di semua lini,” tegasnya.

Selama Amerika dan sekutunya tidak memenuhi syarat gencatan senjata, Republik Islam tidak akan mengirim perwakilan negosiasi.

Iran telah mengusulkan rencana sepuluh poin sebagai dasar diskusi, termasuk penarikan pasukan AS, pencabutan sanksi, dan penetapan kendali atas Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menekankan bahwa agresi tersebut telah memaksa AS menerima persyaratan negosiasi, termasuk rencana jaminan non-agresi.

Teheran menekankan bahwa negosiasi tidak akan menandai berakhirnya konflik, melainkan perpanjangan medan perang ke dalam upaya diplomatik.

Republik Islam juga telah siap menghadapi skenario apa pun atas kecurangan AS dan kebrutalan Israel.

Sumber yang mengetahui informasi tersebut mengatakan bahwa Teheran sejauh ini telah menunjukkan komitmennya namun tetap memantau semua skenario masa depan.

“Skenario sederhana adalah bahwa Amerika Serikat dan mitranya mematuhi gencatan senjata dan menyetujui kesepakatan yang memuaskan bagi Iran.”

“Namun selain skenario ini, ada skenario lain di mana AS menyabotase proses negosiasi dan menghalangi kesepakatan yang menjamin hak-hak Iran.”

Sumber tersebut memperingatkan bahwa AS sama sekali tidak dapat menghindari konsekuensi jika gencatan senjata berakhir tanpa hasil yang menguntungkan Iran.

“Jika gencatan senjata sementara berakhir karena pelanggaran oleh pihak lain, kepentingan AS di seluruh wilayah pasti akan terancam.”

Republik Islam Iran dikabarkan tengah menangguhkan upaya negosiasi di tengah gencatan senjata yang dijanjikan AS dan Israel.

Laporan media tentang kedatangan tim negosiasi Iran di Islamabad dipastikan salah karena langkah ini diambil selama AS tidak memenuhi komitmennya terhadap gencatan senjata di Lebanon.

Dalam kesepakatan gencatan senjata dua minggu, Iran telah menyodorkan 10 syarat termasuk penghentian agresi militer ke Lebanon, sementara AS menginginkan pembukaan Selat Hormuz.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung