Berita, Timur Tengah

Iran Peringatkan AS soal Penyitaan Kapal Tosca: Tindakan Ilegal, Harus Segera Bebaskan Kapal dan Awak

Repelita.net

21 April 2026 20:20 WIB • 811 view

Iran Peringatkan AS soal Penyitaan Kapal Tosca: Tindakan Ilegal, Harus Segera Bebaskan Kapal dan Awak
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait penyitaan kapal kontainer berbendera Iran bernama Tosca di perairan Laut Oman.

Teheran menegaskan bahwa penahanan kapal beserta seluruh awaknya adalah tindakan ilegal dan harus segera diakhiri tanpa syarat.

ADVERTISEMENT

Peringatan ini datang hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Marinir AS telah berhasil mengamankan kapal tersebut.

Iran menyebut aksi Washington sebagai perompakan bersenjata dan pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa, 21 April 2026 pagi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah AS.

"Kami memperingatkan konsekuensi serius dari penahanan kapal Tosca dan menegaskan keharusan pembebasan kapal dan awaknya," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan ini memperkuat sikap militer Iran yang sehari sebelumnya telah berjanji akan segera merespons tindakan AS.

Markas Pusat Khatam al-Anbiya, komando tertinggi angkatan bersenjata Iran, sebelumnya menyebut aksi AS sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Mereka juga mengecam tindakan tersebut sebagai perompakan laut yang tidak bisa ditoleransi dalam hukum internasional.

"Kami memperingatkan bahwa Pasukan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera membalas perompakan bersenjata ini yang dilakukan oleh tentara Amerika," demikian pernyataan militer Iran pada Senin (20/4).

Insiden ini bermula pada Minggu (19/4), ketika kapal kontainer Tosca berlayar dari Asia menuju Iran.

Kapal sepanjang 294 meter ini hampir sebesar kapal induk dan termasuk dalam kelompok Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL).

Perusahaan pelayaran tersebut telah berada di bawah sanksi AS sejak tahun 2019.

Presiden Trump, melalui platform Truth Social, mengklaim bahwa kapal tersebut mencoba menerobos blokade laut AS yang telah diberlakukan.

"Kapal Angkatan Laut kami menghentikan mereka tepat di jalur mereka dengan meledakkan lubang di ruang mesin," tulis Trump.

Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis video yang menunjukkan marinir menaiki kapal menggunakan helikopter.

Sebelumnya, kapal perusak rudal terarah USS Spruance telah memberi peringatan berulang selama enam jam penuh.

Peringatan tersebut diabaikan sepenuhnya oleh awak kapal Tosca yang terus melaju tanpa mengindahkan instruksi.

Setelah awak dievakuasi dari ruang mesin, kapal perang AS melepaskan tembakan dari meriam MK 45 5-inci.

Tembakan tersebut tepat mengenai ruang mesin dan berhasil melumpuhkan sistem propulsi kapal.

Salah satu pertanyaan terbesar yang muncul adalah mengapa Teheran tidak segera melancarkan serangan balasan.

Padahal sebelumnya mereka telah berjanji akan merespons secara cepat setiap agresi AS.

Menurut pernyataan militer Iran yang dikutip oleh ISNA, penundaan ini disebabkan oleh faktor kemanusiaan.

"Iran tidak melawan Marinir AS karena di dalam kapal terdapat anggota keluarga dari awak kapal," demikian laporan tersebut.

Dengan kata lain, Teheran memilih untuk mengutamakan keselamatan keluarga dan awak kapal yang disandera.

Mereka tidak ingin melancarkan serangan yang bisa membahayakan nyawa warga sipil yang tidak bersalah.

Namun setelah keselamatan mereka terjamin, Iran mengancam akan mengambil tindakan yang diperlukan.

Bahkan sumber-sumber Iran mengklaim bahwa pasukan mereka telah melancarkan serangan drone terhadap kapal perang AS.

Klaim ini belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh pihak ketiga.

Salah satu isu kunci dalam insiden ini adalah soal muatan kapal Tosca yang menjadi perdebatan.

AS mengklaim bahwa kapal tersebut membawa barang-barang ilegal yang melanggar sanksi internasional.

Presiden Trump menyatakan bahwa Tosca berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.

Sumber-sumber keamanan maritim yang diwawancarai Reuters mengindikasikan bahwa kapal tersebut kemungkinan membawa barang-barang dual-use.

Barang dual-use adalah barang yang memiliki fungsi sipil sekaligus militer.

Barang-barang itu termasuk logam, pipa, dan komponen elektronik yang bisa digunakan untuk kepentingan militer.

Data pelacakan satelit dari SynMax menunjukkan bahwa Tosca terakhir kali berlabuh di pelabuhan Taicang pada 25 Maret.

Pelabuhan Taicang terletak di utara Shanghai, salah satu pusat industri terbesar di China.

Kapal tersebut kemudian tiba di pelabuhan Gaolan di China selatan pada 29-30 Maret.

Tosca memuat kontainer di Gaolan dan kemudian singgah di Port Klang, Malaysia, pada 11-12 April.

Di Port Klang, kapal tersebut memuat kontainer tambahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Iran.

China sendiri telah menyatakan keprihatinannya atas penyergapan paksa oleh AS terhadap kapal tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mendesak semua pihak untuk menghormati perjanjian gencatan senjata.

Ia juga meminta semua pihak untuk menghindari peningkatan ketegangan yang tidak perlu.

Nasib sekitar 25 awak kapal Tosca masih belum jelas hingga saat ini.

Para ahli hukum maritim masih memperdebatkan status hukum mereka di mata internasional.

Ian Ralby, analis maritim dan presiden Auxilium Worldwide, mengatakan bahwa jika kapal dianggap membawa barang selundupan, awak kapal dapat diperlakukan sebagai tawanan perang.

"Tetapi jika mereka adalah warga sipil, akan ada gambaran hukum yang sangat sulit untuk memastikan hak asasi manusia mereka diperhitungkan," ujar Ralby.

Ia menambahkan bahwa meskipun kapal berbendera Iran, tidak berarti semua awaknya berkewarganegaraan Iran.

"Kebanyakan kapal membawa beragam kewarganegaraan di dalamnya, dan mereka semua bisa berasal dari negara asing yang sama sekali tidak terlibat dalam konflik ini."

Sementara itu, profesor sejarah maritim Sal Mercogliano dari Campbell University menilai bahwa nakhoda kapal kemungkinan akan ditahan.

Nakhoda akan ditahan karena dianggap menolak mematuhi blokade laut yang sah secara internasional.

Namun ia memperkirakan awak lainnya akan dipulangkan ke negara asal masing-masing.

Insiden penyitaan kapal ini terjadi saat gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran hampir berakhir.

Gencatan senjata yang dimulai pada 8 April tersebut akan berakhir pada Rabu (22/4) malam waktu setempat.

Iran sebelumnya telah menolak untuk mengirim delegasi ke putaran kedua negosiasi di Islamabad.

Penolakan itu dilakukan dengan alasan blokade laut AS yang masih terus berlangsung.

Namun dalam perkembangan terbaru, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah memberi lampu hijau.

Lampu hijau itu diberikan kepada tim negosiasi untuk berangkat menuju Pakistan.

Wakil Presiden AS JD Vance bersama Steve Witkoff dan Jared Kushner juga dijadwalkan hadir.

Pertanyaannya sekarang adalah mampukah negosiasi berlangsung di tengah krisis penyitaan kapal ini?

Iran dengan tegas menyatakan bahwa tidak akan ada perundingan di bawah ancaman dan selama blokade masih berlangsung.

Kepala Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebelumnya menuduh Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan bagi Teheran.

"Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman," tegas Ghalibaf.

Dengan peringatan keras dari Kementerian Luar Negeri Iran dan ancaman balasan dari militer Teheran, tekanan kini berada di pundak Washington.

Pertanyaannya, apakah AS akan membebaskan kapal dan awaknya untuk membuka jalan bagi negosiasi?

Ataukah AS akan terus mempertahankan penyitaan tersebut yang berisiko memicu eskalasi militer lebih lanjut?

Satu hal yang pasti, kapal Tosca telah menjadi simbol baru dari ketegangan yang membara antara dua musuh bebuyutan ini.

Nasib kapal tersebut serta nasib para awaknya akan sangat menentukan arah Timur Tengah ke depan.

Apakah kawasan ini akan menuju perdamaian atau justru meluncur ke jurang perang yang lebih dalam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung