Repelita Washington DC - Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya dengan kabar bahwa Iran dikabarkan tengah merakit bom nuklir sementara Amerika Serikat bersiap mengirimkan rudal hipersonik Dark Eagle ke kawasan tersebut.
Peringatan ini muncul setelah laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mengungkap bahwa Iran kini memiliki lebih dari 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, cukup untuk membuat bahan fisil bagi sembilan hingga sebelas bom nuklir dalam hitungan minggu.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah mengajukan permintaan resmi untuk mengerahkan rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah guna mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Jika permintaan ini disetujui, maka akan menandai pengerahan dan penggunaan pertama rudal hipersonik Amerika Serikat dalam operasi tempur di medan perang yang sesungguhnya.
Dark Eagle adalah rudal hipersonik berbasis darat yang mampu melaju pada kecepatan lima kali kecepatan suara dengan jangkauan hingga 2.775 kilometer, cukup untuk menghantam target di pedalaman Iran dari perairan regional.
Keputusan untuk memajukan senjata super cepat ini diambil karena Iran dilaporkan telah memindahkan peluncur rudal balistiknya ke luar jangkauan rudal Precision Strike milik AS yang hanya mampu mencapai target hingga sekitar 482 kilometer.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima paparan langsung dari Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper untuk membahas opsi militer, termasuk kemungkinan serangan "singkat dan dahsyat" guna memecah kebuntuan negosiasi dengan Iran.
Rencana serangan tersebut kemungkinan mencakup target infrastruktur strategis Iran, sementara opsi yang lebih luas termasuk peningkatan tekanan laut di Selat Hormuz.
Para pejabat Amerika dan Israel bersikeras menuntut "zero uranium enrichment" atau pengayaan uranium nol persen dari Iran serta transfer segera stok uranium 60 persen Teheran ke negara ketiga.
Namun, Teheran menolak tuntutan ini sebagai langkah yang tidak dapat diterima, dengan bersikukuh pada hak mereka atas pengayaan sipil terbatas.
Sebagai gantinya, Iran menginginkan pencabutan sanksi dan pendanaan AS untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat konflik.
Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, memperingatkan bahwa setiap operasi militer AS, "meskipun singkat dan cepat", akan direspons dengan "pukulan yang berkepanjangan dan menyakitkan".
"Kami telah melihat nasib pangkalan-pangkalan Anda di kawasan ini; kami juga akan melihat kapal-kapal Anda," tegas Mousavi dalam pernyataannya yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Tasnim.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak awal April 2026, kedua belah pihak dilaporkan terus memanfaatkan masa tenang untuk membangun kembali kekuatan dan persenjataan mereka.
Analis militer meyakini bahwa Dark Eagle, dengan kecepatan dan kemampuan manuvernya yang sulit dideteksi sistem pertahanan udara, dapat menjadi "pengubah permainan" di medan perang jika benar-benar digunakan.
Para pengamat internasional khawatir bahwa kombinasi antara program nuklir Iran yang semakin mendekati titik ledak dan pengerahan rudal hipersonik AS hanya akan memicu perlombaan senjata baru yang lebih berbahaya di kawasan yang sudah rapuh.
Dunia kini menahan napas, bertanya-tanya apakah Timur Tengah benar-benar berada di ambang perang besar yang lebih menghancurkan dari konflik sebelumnya antara Iran dan kekuatan Barat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok