Repelita London - Dunia saat ini sedang menghadapi ancaman serius terhadap stabilitas energi global akibat krisis yang melanda Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Jika jalur ini mengalami kelumpuhan total, dampaknya tidak hanya akan mengguncang pasar energi tetapi juga berpotensi memicu krisis ekonomi serta ketegangan geopolitik yang jauh lebih luas.
ADVERTISEMENT
Pada tanggal 2 April 2026, pemerintah Inggris mengambil langkah cepat dengan menggelar sebuah pertemuan besar yang melibatkan 35 negara untuk membahas krisis yang tengah berlangsung.
Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi serta merumuskan langkah-langkah diplomatik dan politik guna membuka kembali Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran.
Inggris tidak hanya mengandalkan pendekatan diplomasi, tetapi juga mulai menyiapkan sejumlah opsi militer sebagai antisipasi jika situasi di lapangan terus memburuk.
Opsi tersebut mencakup pengawalan kapal tanker minyak, operasi pembersihan ranjau laut, serta perlindungan terhadap ancaman serangan lanjutan dari pihak manapun.
Sementara itu, Prancis secara terbuka mendesak China agar ikut turun tangan dalam upaya mengamankan jalur strategis tersebut dari gangguan yang ada.
Kepala Angkatan Laut Prancis, Laksamana Nicolas Vaujour, menegaskan dalam sebuah konferensi keamanan di Paris pada tanggal 2 April 2026 bahwa keterlibatan China sangat dibutuhkan saat ini.
"Kita belum melihat Angkatan Laut China ikut campur untuk membuka kembali selat," katanya di hadapan para peserta konferensi.
Vaujour menilai bahwa sebagai salah satu konsumen energi terbesar di dunia, China memiliki kepentingan langsung untuk ikut menjaga stabilitas kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur laut yang sangat krusial karena menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi global secara keseluruhan.
Sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya, dan negara-negara besar seperti China, Jepang, serta Eropa sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
Gangguan sekecil apapun di Selat Hormuz sudah cukup untuk mengguncang harga minyak global secara signifikan.
Jika jalur ini benar-benar lumpuh total, konsekuensi yang ditimbulkan bisa jauh lebih parah dan bahkan memicu krisis ekonomi global yang berkepanjangan.
Krisis ini sudah mulai menunjukkan dampak nyata di pasar global dengan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan signifikan akibat kekhawatiran pasokan yang terganggu.
Lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara mulai terasa oleh masyarakat, yang diiringi dengan meningkatnya tekanan inflasi global secara bertahap.
Negara-negara pun mulai mengandalkan cadangan energi strategis mereka sebagai langkah mitigasi sementara sembari mencari solusi jangka panjang.
Namun, jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh total, dampak yang lebih luas dan berat sangat mungkin terjadi dan sulit dihindari.
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat juga berpotensi memicu konflik militer yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Krisis ini bisa menarik lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik, sehingga mengganggu stabilitas kawasan secara luas dan berkepanjangan.
Dalam skenario terburuk, konflik yang terjadi dapat berkembang menjadi krisis internasional yang kompleks dan sulit untuk dikendalikan oleh pihak manapun.
Saat ini, dunia sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan apakah krisis ini akan diselesaikan melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konflik bersenjata yang lebih besar.
Langkah Inggris yang menggalang 35 negara dan tekanan diplomatik dari Prancis terhadap China menjadi penentu penting dalam beberapa hari ke depan.
Jika China yang merupakan importir minyak terbesar dunia dan memiliki kekuatan militer laut yang besar ikut bergabung dalam koalisi, upaya internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz diyakini akan jauh lebih efektif.
Namun, kegagalan dalam mengendalikan krisis ini tidak hanya akan berdampak pada sektor energi tetapi juga berpotensi memicu ketegangan global yang lebih luas dan berkelanjutan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok