Berita, Nasional

Indonesia Sepakati Impor 150 Juta Barel Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir 2026

Repelita.net

24 April 2026 21:40 WIB • 1,158 view

Indonesia Sepakati Impor 150 Juta Barel Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir 2026
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pemerintah Indonesia resmi menyetujui kesepakatan impor minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia untuk memenuhi kebutuhan energi nasional hingga akhir tahun 2026.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa volume tersebut setara dengan sekitar setengah dari total kebutuhan minyak nasional dalam satu tahun.

ADVERTISEMENT

“Impor minyak dari Rusia sudah disepakati total 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan sampai akhir tahun,” katanya di Kantor Kementerian ESDM pada Jumat (24/4/2026).

Menurut Yuliot, skema impor ini masih dalam tahap kajian mendalam dari berbagai aspek.

Pihak yang akan melakukan pembelian masih ditentukan, apakah melalui PT Pertamina atau Badan Layanan Umum (BLU) yang sedang dipertimbangkan pemerintah.

Ia menilai pembelian dalam jumlah besar melalui BUMN memiliki risiko tersendiri yang perlu diantisipasi.

Opsi pembentukan BLU dinilai lebih fleksibel, terutama dalam hal pembiayaan yang bisa memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah juga tengah mengkaji jalur distribusi impor dengan mempertimbangkan faktor efisiensi biaya.

Kondisi geopolitik global, termasuk dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, turut menjadi bahan pertimbangan utama.

“Masih dibahas apakah impor dilakukan langsung oleh perusahaan negara atau melalui BLU, termasuk jalur pengiriman yang paling efisien,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kebutuhan minyak mentah Indonesia mencapai sekitar 300 juta barel per tahun.

Kapasitas produksi dalam negeri saat ini baru sekitar 600 ribu barel per hari.

Jumlah tersebut masih jauh di bawah konsumsi nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari.

Kondisi ini memaksa Indonesia terus bergantung pada impor untuk menutup defisit energi yang menganga.

“Mana yang menguntungkan bagi negara, itu yang kita ambil,” ujar Bahlil di Istana Negara, Jakarta.

Pemerintah terbuka terhadap berbagai sumber pasokan, termasuk dari Rusia maupun negara lain seperti Amerika Serikat.

Yang terpenting, kata Bahlil, negara pengekspor tersebut menawarkan harga yang kompetitif dan menguntungkan Indonesia.

Kerja sama dengan Rusia tidak hanya mencakup pasokan minyak mentah.

Peluang pembangunan infrastruktur energi juga masuk dalam pembahasan untuk memperkuat cadangan energi nasional.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi di tengah tingginya ketergantungan impor.

Ancaman geopolitik global yang terus memburuk juga menjadi latar belakang pengambilan keputusan ini.

Dengan kesepakatan impor 150 juta barel, pemerintah berharap stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga.

Langkah ini juga diharapkan mampu menekan risiko lonjakan harga minyak di dalam negeri.

Kesepakatan ini menjadi bukti upaya nyata pemerintah dalam mengamankan kebutuhan energi rakyat di tengah situasi global yang tidak menentu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung