Repelita Jakarta - Dinamika politik tanah air pasca-Pemilihan Umum 2024 kembali memanas seiring mencuatnya isu keretakan hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo.
Sorotan publik tajam mengarah pada momen canggung saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia yang menjadi awal berulangnya pembahasan mosi tidak percaya di kalangan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Melalui tayangan di kanal YouTube MAS TV yang diunggah pada hari Selasa tanggal 6 Oktober 2026, terekam adegan canggung di mana Joko Widodo tampak diabaikan dalam sesi interaksi formal.
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai fenomena politik tersebut menjadi indikasi kuat bahwa kedua tokoh besar ini sudah resmi memilih jalan politik yang berseberangan.
Keretakan hubungan ini disebut kian nyata setelah posisi strategis di kepolisian yang dihuni oleh Listyo Sigit Prabowo digantikan oleh Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru pilihan Prabowo.
Langkah pembersihan kabinet dari unsur sekutu Joko Widodo juga terlihat dari penurunan posisi beberapa tokoh loyalis, termasuk salah satunya adalah Qodari.
Tidak hanya itu, situasi makin pelik bagi pihak Solo lantaran posisi Gibran Rakabuming Raka kian terhimpit akibat sengketa keabsahan dokumen pendidikan di Mahkamah Konstitusi.
Di dalam persidangan resmi, Taufiq Damarjati selaku pejabat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan kesaksian bahwa proses penyetaraan Gibran hanya menyertakan sertifikat kehadiran.
Kondisi ketidakpastian ini diperkuat oleh tidak adanya pembelaan atau sikap pasang badan dari partai-partai koalisi pendukung Prabowo untuk mengamankan posisi sang wakil presiden.
Kanal YouTube MAS TV juga menyoroti manuver Joko Widodo yang secara terbuka mengumumkan status keanggotaannya di Partai Solidaritas Indonesia sejak setahun yang lalu.
Langkah politik sepihak tersebut dinilai sebagai upaya pembentukan benteng pertahanan baru karena dirinya merasa mulai terisolasi dari episentrum kekuasaan istana.
Ketegangan makin tajam setelah kubu Prabowo justru merangkul tokoh-tokoh kritis yang dahulu kerap berseberangan dengan rezim Joko Widodo masuk ke dalam lingkaran pemerintahan.
Masuknya nama-nama pengkritik keras seperti Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat ke dalam jajaran penyelenggara negara menjadi sinyal tegas berakhirnya pengaruh kekuasaan lama.
Masyarakat di jagat maya turut memberikan reaksi keras setelah menyaksikan rekaman video canggung yang beredar luas di berbagai platform media sosial tersebut.
Pengguna akun @nisaafitrii mengungkapkan rasa simpatinya secara langsung melalui tulisan, "Ah sedihnya liat pak jokowi digituin," di kolom komentar.
Sementara itu, reaksi tajam berupa perumpamaan politik disampaikan oleh akun @cicikmel yang menuliskan, "Winrate pria Solo emang 100 persen. Tapi sayangnya kali ini dia lupa kalo ular tetaplah ular walaupun udah ganti skin." (*)
Editor: 91224 R-ID Elok