Berita, Nasional

Heru Subagia Harap Tiyo Ardianto Tetap Independen dan Tidak Terjebak Kepentingan Politik Praktis

Repelita.net

18 June 2026 20:36 WIB • 510 view

Heru Subagia Harap Tiyo Ardianto Tetap Independen dan Tidak Terjebak Kepentingan Politik Praktis
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Polemik yang menyeret mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, masih terus bergulir di tengah publik pasca pelaporan hukum oleh Firdaus Oiwobo.

Situasi ini semakin kompleks dengan adanya spekulasi yang menghubungkan gerakan kritik Tiyo dengan sisa-sisa afiliasi politik pada Pemilihan Presiden 2024 silam.

ADVERTISEMENT

Merespons hal tersebut, Ganjar Pranowo sebelumnya menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah idealnya dijawab melalui data, bukan dengan stigma politik tertentu.

Menanggapi pernyataan Ganjar, pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia, memberikan apresiasi terhadap sikap yang diambil mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut.

"Pada akhirnya Ganjar keluar kandang mengisi catatan harian politik nasional. Ganjar berbicara berkaitan hak warga negara dan berhubungan dengan dukung mendukung Capres-cawapres 2024 kemarin," ujar Heru, Kamis, 18 April 2026.

Heru tidak menampik adanya perhatian publik terkait isu kendaraan yang digunakan Tiyo, yang memicu tuduhan adanya campur tangan partai politik tertentu.

"Saat ini Tiyo viral karena diduga Fortuner yang dipakainya salah satunya menjadi atribut dukungan Partai Politik, PDIP disinyalir dalam dukungan atau gerakan Tiyo," sebutnya.

Meski begitu, ia setuju dengan pandangan Ganjar bahwa mengaitkan setiap kritik mahasiswa dengan agenda Pilpres adalah tindakan yang terlampau naif.

"Menurut saya, sepakat dengan Ganjar bahwa tidak ada relevansinya, terlalu naif, apabila kritik yang ditujukan kepada pemerintah saat ini harus dikaitkan dengan Pilpres 2024 kemarin," tukasnya.

Heru menambahkan, mereka yang berada di luar kursi kekuasaan tetap memegang peran krusial bagi kesehatan demokrasi dan harus dipandang sebagai aset negara.

"Kembali saya meyakini setiap hak warga negara yang tidak ada dalam posisinya di pemerintahan, bukan berarti tidak bermanfaat," tutur Heru.

"Karenanya Ganjar dan saya yang juga mantan ketua relawan Ganjar, melihat rezim saat ini harus menghormati kritik menjadi bagian dari aset negara," sambungnya.

Ia juga menegaskan bahwa mereka yang melontarkan kritik tidak boleh disudutkan sebagai pihak yang sedang berupaya mencari keuntungan politik semata.

"Bukan berarti pengkritik berada dalam posisi penggiran yang haus kekuasaan dan berada dalam koridor mencari perhatian untuk mendapatkan kekuasaan," tegasnya.

Terkait posisi Tiyo, Heru berharap aktivis mahasiswa tersebut tetap menjaga kemandirian gerakannya agar tidak terseret ke dalam pusaran kepentingan praktis.

"Untuk kasus Tiyo yang saat ini masih menjadi bagian gerakan aktif mahasiswa, tentu kita berharap itu betul-betul menjadi identitas Tiyo itu sendiri," terangnya.

"Artinya Tiyo murni terlahir dari gerakan mahasiswa yang dibangun atas dasar kepatuhan idealisme dan keberanian," tandasnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya menjaga batas tegas antara gerakan moral mahasiswa dengan pengaruh kelompok kepentingan politik.

"Persoalannya dipisahkan dalam kasus Tiyo, sebagai mahasiswa dia harus dibiarkan mandiri, tidak terafiliasi dan tetap independen," kuncinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung