Repelita Jakarta - Dinamika konstelasi politik nasional menuju pemilihan presiden periode mendatang diprediksi bakal menghadirkan pertarungan yang jauh lebih kompetitif ketimbang perhelatan sebelumnya.
Sejumlah figur ternama mulai masuk dalam perhitungan strategis para elite partai, termasuk kemunculan nama mantan Gubernur DKI Jakarta dalam bursa bimbingan kontestasi.
ADVERTISEMENT
Peta kekuatan tersebut diungkapkan oleh seorang pengamat komunikasi politik terkemuka yang menyoroti potensi pergerakan para tokoh potensial di masa depan.
Calon-calonnya banyak, dan dua ribu dua puluh sembilan ini kayaknya enggak cuma Prabowo-Gibran lagi, ujar Hendri Satrio dalam keterangannya kepada awak media.
Ia memandang bahwa tokoh muda yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden memiliki kans besar sebagai salah satu kandidat pemimpin terkuat pada perhelatan mendatang.
Di sisi lain, partai politik besar dipastikan tidak akan kehabisan kader potensial yang siap diusung untuk meramaikan bursa pencalonan nasional.
Bahkan, gerakan arus bawah yang selama ini memberikan dukungan masif kepada sang mantan kontestan pilpres tetap menjadi pertimbangan penting bagi kalkulasi para politisi.
Yang paling santer kan gerakan rakyat yang mengusung Anies Baswedan, nah, ini tinggal dilihat gerakan rakyat itu lolos verifikasi atau tidak, tambahnya.
Modal basis massa riil yang dimiliki oleh sang tokoh dinilai masih menjadi daya tarik tersendiri bagi partai politik dalam merajut koalisi strategis.
Sebagai mantan calon presiden di dua ribu dua puluh empat lalu, pasti Anies punya basis massa, dia akan dipakai atau tidak, itu yang dilihat, jelasnya.
Lebih lanjut, pengamat tersebut turut mengulas manuver politik mantan kepala negara pendahulu yang dinilai memiliki ragam strategi cermat dalam membaca peluang.
Ia menduga bahwa sang tokoh senior tidak pernah hanya mengandalkan satu rencana tunggal dalam mengamankan kepentingan politik keluarganya ke depan.
Setelah itu mungkin bisa yang lain, dia bisa lewat PSI, mungkin dia juga bisa hitung Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat mendampingi anaknya, ulasnya.
Segala kemungkinan dinilai sangat terbuka lebar dalam panggung kekuasaan, khususnya setelah dinamika pascapemilu menempatkan figur keluarga istana pada posisi strategis.
Jadi di politik itu, terutama setelah Mas Gibran jadi wapres, sulit kita mengatakan tidak mungkin, tegasnya menandaskan konstelasi yang ada.
Kendati demikian, konfigurasi perpolitikan nasional masih tergolong sangat cair mengingat rentang waktu menuju kontestasi berikutnya masih terbentang cukup panjang.
Jokowi itu orang yang sangat cerdas di politik, dia paham strategi politik, dia paham momentum politik, itu kelebihan seorang Jokowi, pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok