Repelita [Jakarta] - Pengamat dinamika politik nasional Hendri Satrio secara resmi memperkenalkan karya literatur terbarunya yang mengupas tuntas keterkaitan gagasan besar antara tokoh ekonomi senior dan Kepala Negara saat ini.
Agenda peluncuran naskah akademis yang berlangsung di salah satu sudut kota Jakarta Selatan pada hari Rabu 10 Juni 2026 tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat kabinet dan akademisi senior.
ADVERTISEMENT
Fokus utama dari penerbitan naskah ini adalah melihat sejauh mana doktrin ekonomi milik Sumitro Djojohadikusumo diadopsi dalam kebijakan strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Buku 'Estafet Ideologi dari Sumitro ke Prabowo' ini saya tulis dalam rangka untuk mencoba memahami kira-kira pemikiran Sumitro waktu itu yang diterjemahkan oleh Pak Prabowo hari ini tuh seperti apa, sebesar apa, dan kemudian semasif apa perbedaan yang sangat signifikan," ujar Hensa.
Metode penulisan naskah ini sengaja dirancang dengan menggunakan sudut pandang penyampaian pesan terpadu agar dinamika transfer gagasan antar-generasi dapat dipahami secara runut oleh publik.
Simbolisasi perpindahan gagasan dalam literatur ini diartikan sebagai inisiatif mandiri dari sang pemimpin nasional demi mewujudkan sistem kemakmuran rakyat yang berkesinambungan.
"Estafet ini juga jangan diartikan bahwa Sumitro memberikan tongkat ke Pak Prabowo, tapi saya mengartikan Estafet ini justru Pak Prabowo yang mengambil tongkat dari Sumitra untuk meneruskan gagasan-gagasannya dalam mensejahterakan Indonesia," jelas Hensa.
Keberanian penulis dalam mengangkat tema fundamental mengenai dasar haluan negara mendapat apresiasi tinggi karena topik tersebut dinilai mulai memudar dari ruang diskusi terbuka masyarakat.
"Jarang-jarang ada buku yang membahas tentang ideologi, jadi pak Hendri Satrio ini kita harus acungi jempol, punya keberanian untuk membicarakan tentang ideologi yang sekarang menurut saya, diskursus wacana publik itu jarang membicarakan tentang ideologi," ujar Ferry.
Dokumentasi tertulis ini juga dinilai berhasil merangkum prinsip tata kelola keuangan berbasis kerakyatan yang bersumber langsung dari amanat konstitusi negara.
"Buku ini merupakan sebuah buku yang berusaha mendokumentasi sebuah pemikiran yang bersifat ideologis dari Pak Sumitro Djojohadikusumo, orang tua dari Pak Presiden Prabowo yang merupakan pemikiran ekonomi yang kerakyatan, menerjemahkan Pasal 33 UUD RI dan kemudian bagaimana ekonomi itu dioperasionalkan," ujar Misbakhun.
Prinsip dasar mengenai pentingnya mengeksekusi sebuah langkah kebenaran dengan metode yang tepat juga menjadi poin krusial yang disorot oleh jajaran kepala lembaga pemerintahan.
"Tema estafet ideologi ini menarik karena ideologi pada dasarnya adalah tentang doing right things atau melakukan suatu hal yang benar. Poin utamanya adalah bagaimana Pak Prabowo bisa meyakini bahwa apa yang beliau lakukan adalah hal yang benar, sehingga kebenaran tersebut juga dieksekusi dengan cara yang benar," ujar Budiman.
Dalam tataran implementasi makro, integrasi pemikiran ekonomi lama tersebut kini telah bertransformasi ke dalam program kerja jangka panjang pemerintah dengan penyesuaian sektor ketahanan.
"Pemikiran Sumitro kemudian diterjemahkan ke dalam Asta Cita yang merupakan Program Pembangunan Prabowo, namun dengan penekanan pada pentingnya memperkokoh kerangka pertahanan keamanan sesuai dengan dasar negara Pancasila, prinsip demokrasi dan hak azasi manusia," ungkap Ninasapti dalam pemaparannya.
Para pengamat pendidikan tinggi turut menilai bahwa naskah ini berhasil memetakan proses pembentukan karakter kepemimpinan, meski identitas khusus dari sang tokoh senior masih memerlukan kajian pembanding.
"Buku ini bagus dalam konteks bagaimana ideologi yang dimiliki oleh Pak Sumitro itu tertransfer dan terkonstruksi ke Pak Prabowo. Ada identitas yang sangat melekat dalam diri Pak Sumitro yaitu sosialis, namun saya tidak tahu terkonstruksi ke mana ke Pak Prabowo saat ini, itu menjadi identity yang mana," ujar Wachid.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok