Berita, Ekonomi

Hendri Satrio Ingatkan Pemerintah Agar Optimisme Ekonomi Tidak Sekadar Menjadi Lip Service Ke Masyarakat

Repelita.net

19 May 2026 17:52 WIB • 790 view

Hendri Satrio Ingatkan Pemerintah Agar Optimisme Ekonomi Tidak Sekadar Menjadi Lip Service Ke Masyarakat
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sikap percaya diri yang ditunjukkan oleh jajaran kabinet dinilai sebagai hal yang wajar namun momentum tersebut wajib diimbau agar getaran positifnya dapat menyentuh secara riil ke lapisan terbawah.

Sorotan publik ini mencuat setelah otoritas kementerian keuangan mengeluarkan estimasi makro yang menyebutkan fundamental keuangan nasional masih dalam koridor aman sehingga segenap lapisan masyarakat diimbau untuk tetap tenang.

ADVERTISEMENT

Menurut pandangan pengamat dinamika politik dan kehumasan nasional pembentukan narasi positif dari pemangku kebijakan sangat krusial dalam menghadapi turbulensi pasar global saat ini agar tidak memicu kepanikan massal.

Kendati demikian dirinya memberikan catatan kritis bahwa klaim keberhasilan tersebut tidak boleh sebatas menjadi materi jawaban pemanis di hadapan awak media cetak maupun elektronik sewaktu sesi wawancara berkala saja.

“Pemerintah tentu boleh optimis, bahkan memang harus optimis. Tapi optimisme itu jangan hanya sekadar 'lip service' saja ke masyarakat, namun juga berdampak," ujar Hensa, Selasa, 19 Mei 2026.

Dirinya mendeteksi adanya kesenjangan yang cukup lebar antara laporan statistik di atas meja birokrat dengan realitas perputaran roda ekonomi yang dihadapi oleh kelompok pekerja harian di pasar tradisional.

Faktor penurunan kemampuan belanja rumah tangga serta fluktuasi nilai tukar domestik menjadi alasan utama mengapa narasi pemulihan yang digungkan dari pusat kekuasaan belum sepenuhnya dipercayai oleh konstituen bawah.

“Masalahnya, masyarakat belum ikut merasa optimis, kalau di atas billing semuanya baik-baik saja, tapi di bawah harga naik dan rupiah melemah, pada akhirnya jadi wajar kalau publik bertanya-tanya,” katanya membeberkan fakta sosiologis di lapangan.

Lebih lanjut dirinya juga menganalisis karakter kepemimpinan dari sang kepala negara yang dinilai sangat teguh dalam mengobarkan semangat berdikari serta rasa cinta tanah air di hadapan forum internasional.

Sikap patriotik sang presiden tersebut kini ditantang untuk segera diejawantahkan ke dalam skema perlindungan jaring pengaman sosial yang lebih protektif terutama bagi perlindungan kelompok ekonomi menengah.

“Pak Prabowo itu jelas nasionalis dan optimis, tapi optimisme itu harus diturunkan jadi sesuatu yang bisa dirasakan. Jangan sampai optimisme hanya jadi semacam slogan yang indah didengar, tapi enggak bisa dirasakan,” ujarnya memberikan penekanan strategis.

Pola penyampaian pesan kehumasan dari istana ke depan dituntut untuk mengedepankan pendekatan yang menyentuh empati publik serta berpijak secara jujur pada kondisi riil yang tengah bergeliat di tengah masyarakat.

Kepercayaan dari para pelaku usaha dan elemen sipil tidak akan bisa tumbuh secara instan lewat instruksi melainkan wajib dipupuk melalui transparansi data serta pembuktian konkret di sektor pemenuhan bahan pokok harian.

“Kalau pemerintah ingin publik percaya, jangan hanya bilang ‘semua terkendali’. Tunjukkan apa yang membuat kita bisa percaya bahwa semuanya memang terkendali. Karena kepercayaan publik itu bukan diminta, tapi dibangun,” kata dia menguraikan formula komunikasi krisis.

Dirinya juga mengingatkan bahwa di tengah situasi penuh ketidakpastian moneter global saat ini keterbukaan informasi mengenai tantangan riil yang dihadapi negara justru menjadi modal utama penjaga kepatuhan warga.

“Optimisme itu penting, tapi jangan sampai terasa seperti menenangkan diri sendiri. Publik butuh alasan untuk optimis, bukan sekadar ajakan,” pungkas Hensa mengakhiri ulasan evaluasi kehumasan lembaga eksekutif tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung