Repelita Jakarta - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai bahwa ancaman terbesar bagi Presiden Prabowo Subianto tidak berasal dari kelompok oposisi, melainkan dari dalam koalisi pemerintahan itu sendiri.
Hendri Satrio yang akrab disapa Hensa menyampaikan hal tersebut kepada wartawan pada Rabu (15/4/2026) dengan menyoroti kondisi koalisi pendukung Prabowo yang dinilainya terlalu tenang di permukaan.
ADVERTISEMENT
“Koalisinya terlalu tenang. Kelihatannya selalu 'hidup Prabowo, hidup Prabowo', tapi hati-hati, sekali ada hal yang tidak berjalan baik, mungkin mereka akan menyalip di tikungan,” kata Hensa.
Ia mengingatkan bahwa situasi dukungan yang selalu ditunjukkan di permukaan bisa berubah sewaktu-waktu jika ada hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencana dan harapan para pendukung.
Hensa yang juga merupakan dosen di Universitas Paramadina Jakarta ini menyebut program-program unggulan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai titik rawan yang berpotensi melemahkan posisi Prabowo.
Menurutnya, kedua program tersebut dapat menjadi bumerang bagi presiden apabila implementasinya di masyarakat menemui berbagai masalah dan kegagalan yang signifikan.
Terkait spekulasi yang beredar di publik yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di balik tekanan terhadap Prabowo, Hensa menyatakan bahwa narasi tersebut sama sekali tidak berdasar.
Ia menilai bahwa Gibran hingga saat ini masih bersikap sangat tenang dan tidak menunjukkan indikasi atau gerakan politik ke arah seperti yang dituduhkan oleh sebagian pihak.
Hensa juga menilai bahwa Prabowo sendiri sebenarnya menyadari sepenuhnya adanya pihak-pihak tertentu yang menginginkan dirinya lengser sebelum masa jabatan berakhir.
Kesadaran tersebut, menurut Hensa, tercermin dengan jelas dari pernyataan publik Prabowo yang kerap mempersilakan pihak yang tidak puas dengan pemerintahannya untuk menunggu Pemilu 2029 mendatang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok