Repelita Jakarta - Gelombang transformasi posisi politik seorang pakar filsafat nasional menuju lingkaran birokrasi kepresidenan memicu analisis tajam seputar konsistensi idealisme perjuangan di ruang publik.
Langkah masuknya sang kritikus vokal ke dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden dinilai memiliki korelasi erat dengan melunaknya tensi kritik verbal beberapa waktu belakangan.
ADVERTISEMENT
Catatan evaluasi digital mengenai rangkaian peristiwa politik yang melatarbelakangan pemberian kursi kekuasaan tersebut dipublikasikan secara daring oleh akun @abangtv.id.
Melalui rangkaian kiriman di platform siber Threads tertanggal 2 Oktober 2026, sang pemilik akun mengulas perubahan drastis garis komunikasi politik sang tokoh.
Akun @abangtv.id menuliskan, "Jujur, gw nggak terlalu kaget Rocky Gerung jadi Wantimpres. Belakangan, sikap Rocky ke pemerintahan Prabowo memang terasa lebih lunak, bahkan soal MBG. Lalu muncul pertemuannya dengan Dasco. Sekarang? Rocky resmi masuk lingkaran kekuasaan sebagai Wantimpres. Duly Rocky dikenal sebagai salah satu suara yang cukup keras mengkritik pemerintah dari luar. Tapi belakangan, terutama soal pemerintahan Prabowo dan MBG, kritiknya terasa nggak segencar dulu. Kemudian Rocky bertemu Dasco. Dan hari ini, dia masuk sebagai bagian dari Dewan Pertimbangan Presiden. Kebetulan? Bisa jadi. Tapi wajar kalau publik kemudian menghubungkan rangkaian ini. Sekarang yang menarik bukan lagi soal Rocky masuk atau nggak masuk kekuasaan. Tapi, Rocky yang masuk ke lingkaran kekuasaan ini masih akan jadi Rocky yang sama? Kalau tetap kritis dan berani berbeda pendapat dari dalam, justru menarik. Tapi kalau suara kritisnya ikut melunak setelah duduk di dalam...??? publik juga berhak menilai sendiri."
Ulasan runtutan fakta politik di ruang digital tersebut memicu gelombang pertanyaan kritis dari para pengguna internet yang meragukan independensi personalnya.
Sebuah respons bernada keheranan dilayangkan oleh seorang warganet yang mempertanyakan komitmen ketajaman pemikiran sang tokoh pasca-pemilihan umum.
Pertanyaan menohok dari masyarakat siber mengenai melemahnya suara oposisi tersebut disampaikan di kolom diskusi oleh akun @aisyah_achmadb.
Melalui tanggapan singkatnya di bawah kiriman utama, akun @aisyah_achmadb berujar, "Kartu Gerung yang mana yg dimiliki, hingga bisa membengkokkan lisannya?"
Pernyataan dari warganet tersebut langsung mendapatkan respons balasan dari sang pengunggah narasi awal yang mempertanyakan nilai idealisme dasar perjuangannya.
Merespons pertanyaan mengenai konsistensi ketajaman berpikir dari intelektual senior itu, akun @abangtv.id menyatakan, "Kemana idealisme yang selama ini dia perjuangkan? 😆."
Sikap skeptis serupa turut disuarakan oleh pengguna jejaring digital lain yang berniat menguji orisinalitas karakter ketokohan sang filsuf di masa mendatang.
Publik menilai momentum pembuktian independensi sikap akademis akan terlihat saat sang tokoh dihadapkan pada realisasi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
Sentimen mengenai pengujian konsistensi peran kontrol sosial dari sang akademisi tersebut diposting oleh akun @reksuro.
Melalui kiriman daringnya di ruang interaksi siber tersebut, akun @reksuro menegaskan, "Kita akan lihat siapa sebenarnya RG tsb.. apakah benar2 orang atau hanya orang2an..."
Pernyataan dari masyarakat siber tersebut disepakati oleh pengamat digital yang menilai kelunakan argumen di dalam istana akan menjadi bumerang reputasi bagi dirinya.
Merespons kekhawatiran publik mengenai potensi hilangnya fungsi oposisi konstruktif tersebut, akun @abangtv.id menyatakan, "Kalau tetap kritis dan berani berbeda pendapat dari dalam, justru menarik. Tapi kalau suara kritisnya ikut melunak setelah duduk di dalam...??? 😂😂😂."
Sorotan tajam dari masyarakat siber ini mencerminkan tingginya harapan publik agar fungsi kontrol intelektual tetap berjalan objektif meski berada di dalam kekuasaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads