Berita, Nasional

[HEBOH] Meilanie Buitenzorgy Kritik Analogi Dedek Prayudi soal Sertifikat Pathway Gibran, Sebut Perbandingannya Ngawur

Repelita.net

10 October 2026 16:34 WIB • 133 view

[HEBOH] Meilanie Buitenzorgy Kritik Analogi Dedek Prayudi soal Sertifikat Pathway Gibran, Sebut Perbandingannya Ngawur
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Narasi seputar perbandingan dokumen akademik milik tokoh politik nasional dalam program pendidikan luar negeri kembali menuai perhatian tajam di ruang digital.

Kritik tajam tersebut mengemuka pasca munculnya klaim mengenai kesamaan dokumen program jalur pembelajaran formal antar dua tokoh yang berbeda.

ADVERTISEMENT

Sebuah tulisan kritis diunggah oleh akun @Meilanie Buitenzorgy pada 9 Oktober 2026 yang menguliti pernyataan seorang fungsionaris partai politik.

Melalui lembar unggahannya, penulis kiriman tersebut menuliskan judul kritik pembuka secara utuh yaitu, "Analogi Ngawur Dedek Uki Prayudi".

Ia kemudian memaparkan narasi latar belakang mengenai perdebatan isi dokumen tersebut yang bersumber dari tayangan diskusi di platform digital.

Dalam paragraf awal teks unggahannya, pengunggah informasi membeberkan kalimat kronologi yakni, "Dalam diskusi dengan Refly Harun, Politisi PSI Dedek Prayudi menyatakan jalur pathway yang ditempuhnya di Selandia Baru sama persis dengan jalur yang ditempuh Gibran di UTS Insearch Australia. Dedek memamerkan sertifikat pathway yang diterimanya dari Victoria University of Wellington bertajuk Certificate of Proficiency (COP). Dalam sertifikat tersebut, tidak ada dinyatakan dia lulus dari program pathway yang diikutinya tsb. Dia menyamakan COP tersebut dengan Certificate of Attendance yang dimiliki Gibran dari UTS Insearch Australia."

Pihak pembuat postingan menilai bahwa pernyataan perbandingan dokumen itu merupakan sebuah kekeliruan logika yang mendasar di hadapan masyarakat.

Secara lugas warganet ini menyayangkan tindakan tersebut dengan menulis kutipan teks, "Ini lagi-lagi upaya pembodohan terhadap publik awam."

Lebih lanjut, ia merinci dua poin perbedaan mendasar mengenai status kelulusan mata kuliah serta jenis sertifikat yang diterbitkan oleh masing-masing lembaga asing.

Pada poin pertamanya, dikemukakan secara persis fakta persidangan legal yakni, "Satu, Uki bisa dapat COP itu karena SEMUA subyek yang diambilnya dalam program Pathway tsb LULUS. Sedangkan pada transkrip UTS Insearch Gibran yang dibacakan hakim MK, ada subyek yang TIDAK LULUS."

Penjelasan kemudian dilanjutkan pada poin giveaways keduanya dengan membandingkan jenis dokumen kelulusan resmi yang dikeluarkan oleh dua universitas tersebut.

Untuk isi argumen kedua, teks unggahan menuliskan keterangan komparasi yaitu, "Dua, sertifikat kelulusan yang dikeluarkan program pathway UTS Insearch Australia BERBEDA dengan sertifikat pathway VUW New Zealand. Dan sertifikat kelulusan UTS Insearch itu BUKAN bertajuk Certificate of Attendance."

Selain itu, dipaparkan pula rincian mengenai perbedaan lembar dokumen yang diterbitkan bagi siswa yang berhasil maupun yang gagal.

Bagi peserta didik yang dinyatakan lulus, netizen ini memberikan daftar dokumen asli berupa, "Untuk siswa program pathway yang berhasil LULUS, maka UTS Insearch mengeluarkan 2 dokumen: 1. Certificate of Completion (Testamur) 2. Official Academic Transcript".

Sementara itu, ia juga melampirkan berkas pengganti yang diberikan khusus bagi para peserta program didik yang tidak memenuhi syarat kelulusan.

Mengenai kondisi kegagalan studi tersebut, lembar media sosial menuliskan daftar persis teks yakni, "Sedangkan untuk siswa yang TIDAK LULUS, UTS Insearch akan memberikan 2 dokumen: 1. Certificate of Attendance 2. Uncertified Academic Record/Partial Transcript".

Pada bagian akhir tulisan, disimpulkan alasan di balik kepemilikan jenis sertifikat kehadiran tertentu yang menjadi polemik.

Kesimpulan penegas tersebut dituliskan secara langsung dalam narasi dengan kalimat, "Gitu ya. Jadi udah paham ya kenapa Gibran cuma dapat Certificate of Attendance dari UTS Insearch."

Unggahan bernada edukasi politik ini sengaja dibuat untuk memberikan pemahaman transparan agar publik tidak mudah disesatkan oleh opini praktis.

Pemilik akun menutup kiriman tersebut dengan dua kalimat terakhirnya secara persis yaitu, "Capek deh merespon orang-orang yang berusaha membodohi publik kayak gini. Yawis, inilah sumbangan saya untuk edukasi publik supaya ndak gampang dibodoh-bodohi politisi."(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung