Berita, Nasional

[HEBOH] Jaka Widada Jadi Guru Besar UGM, Netizen: "Ah Apa Hanya Perasaanku Saja?"

Repelita.net

29 April 2026 23:13 WIB • 1,261 view

[HEBOH] Jaka Widada Jadi Guru Besar UGM, Netizen: "Ah Apa Hanya Perasaanku Saja?"
Foto: Istimewa

Repelita Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada secara resmi mengukuhkan Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Mikrobiologi Terapan dalam sidang senat terbuka yang berlangsung di ruang Balai Senat pada Selasa, 21 April 2026.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Holobiont sebagai Driver Revolusi Mikrobiologi Terapan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Global", Jaka menyoroti pergeseran paradigma besar dalam ilmu biologi modern.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan bahwa selama lebih dari satu abad, sains dibangun di atas fondasi "individualisme biologis" yang memandang tumbuhan sebagai entitas otonom, padahal setiap makhluk hidup pada dasarnya adalah sebuah super-organisme.

"Dalam biologi modern, kita tidak lagi berbicara tentang entitas tunggal. Setiap makhluk hidup, termasuk kita, pada dasarnya adalah sebuah super-organisme," ujar Jaka di hadapan para hadirin.

Ia mengungkapkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk gabungan di mana sel tubuh manusia hanya menyumbang separuh dari total sel, sementara sisanya adalah mikroba.

Jumlah gen mikrobioma manusia mencapai lebih dari 10 juta gen unik, jauh melampaui genom manusia yang hanya sekitar 20.000 hingga 23.000 gen.

Jaka juga memperingatkan ancaman serius berupa Microbiome Extinction atau kepunahan ekosistem mikroba tanah secara masif akibat praktik pertanian intensif modern.

Penggunaan pupuk sintetis dan herbisida secara berlebihan telah merusak keseimbangan alami mikroorganisme di dalam tanah.

"Tanaman secara aktif mengekskresikan hingga 30 persen hasil fotosintesisnya sebagai eksudat akar. Cairan kaya gula dan asam organik ini berfungsi sebagai sinyal kimiawi di zona rizosfer," jelasnya.

Ketika menghadapi cekaman seperti serangan patogen atau kekeringan, tanaman mengaktifkan strategi pertahanan kompleks yang dikenal sebagai mekanisme "Cry for Help" atau panggilan minta tolong.

"Kita harus beralih dari sekadar memberi makan tanaman dengan bahan kimia menjadi memberi makan kehidupan dalam tanah. Sebab, hanya dari tanah yang sehatlah akan lahir pangan yang kuat, dan dari pangan yang kuatlah akan lahir manusia yang sehat," tegas profesor baru UGM tersebut.

Ia juga menyoroti tiga tantangan besar yang dihadapi dunia riset mikrobiologi saat ini, yaitu minimnya infrastruktur riset multi-omik yang memadai, keterbatasan kapasitas bioinformatika, serta belum terintegrasinya hasil riset akademis ke dalam kebijakan ekologis dan industri.

"Kita harus berinvestasi lebih berani pada teknologi sains hayati dan mencetak generasi peneliti yang fasih membaca sandi alam, agar perpustakaan genomik kita tidak sekadar menjadi harta karun yang tak tersentuh, melainkan mesin penggerak solusi yang nyata," tutupnya mengakhiri pidato pengukuhan.

Akan tetapi, saat kabar pengukuhan ini beredar di media sosial pada 28 April 2026, publik justru salah fokus pada nama sang guru besar karena mengingatkan pada sosok Presiden Ke-7 RI, Joko Widodo, yang juga merupakan alumni UGM dari bidang kehutanan.

"Ah apa hanya perasaanku saja," tulis @krisnaptra di akun Facebook pribadinya.

"Apa iya si pria Solo itu," tulis netizen lainnya dalam unggahan yang sama.

"Yang itu O, yang ini A," tulis yang lain mencoba membedakan antara Joko Widodo dan Jaka Widada.

Pengukuhan ini tidak hanya menandai pencapaian akademik semata, tetapi juga memperkuat komitmen Fakultas Pertanian UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung