Berita, Nasional

[HEBOH] Hasan Nasbi Murka Akronim Program Pangan Dijadikan Bahan Olok-olok, Sindir Keras: Jangan Sampai Nalar dan Kebenaran Ikut Didiskon

Repelita.net

02 June 2026 20:24 WIB • 805 view

[HEBOH] Hasan Nasbi Murka Akronim Program Pangan Dijadikan Bahan Olok-olok, Sindir Keras: Jangan Sampai Nalar dan Kebenaran Ikut Didiskon
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam datang dari jajaran penasihat khusus kepala negara urusan interaksi publik terkait maraknya ungkapan sarkasme akronim institusi pangan yang diubah menjadi narasi bernada olok-olok politik.

Sarkasme verbal tersebut disinyalir pertama kali mencuat dari pernyataan seorang mantan aktivis mahasiswa sebuah universitas negeri terkemuka dalam rangkaian bincang publik bersama mantan menteri hukum di wilayah Sleman.

ADVERTISEMENT

Pernyataan keberatan dari figur otoritas komunikasi tersebut disiarkan lewat jejaring sosial personal melalui akun instagram @michropone.hasan.nasbi pada Senin (1/6/2026).

Berdasarkan pandangannya, pengubahan singkatan tersebut merupakan bentuk pelecehan nyata bagi jutaan tenaga kerja lokal yang menggantungkan hidup pada program pemenuhan nutrisi nasional.

Lebih lanjut, narasi negatif itu dirasa melukai martabat puluhan juta rakyat miskin di seantero nusantara yang menjadi target sasaran utama bantuan pangan gratis tersebut.

Pihaknya kemudian mempertanyakan kualitas logika berpikir dari barisan oknum intelektual yang memproduksi narasi bernada merendahkan itu ke ruang publik.

"Sok paten itu, ini nalarnya didiskon, jangan sampai kebenaran juga didiskon," ujar Hasan.

Masyarakat luas diimbau untuk senantiasa menyaring secara ketat segala bentuk pasokan kabar yang beredar di berbagai lini masa agar tidak terjebak hoaks.

Proses penerimaan informasi dianalogikan layaknya aktivitas mengonsumsi hidangan makanan yang wajib melalui proses pelumatan matang sebelum dikonsumsi tubuh.

Prinsip verifikasi data serta penelusuran fakta otentik mutlak diperlukan sebelum seseorang memutuskan untuk memercayai lalu menyebarluaskan sebuah pesan.

"Cukuplah tas yang didiskon. Cukuplah harga barang yang didiskon. Tapi nalar dan pikiran jangan sampai didiskon," tambahnya.

Masyarakat juga diingatkan untuk mampu meredam gejolak amarah kolektif agar tidak menjelma menjadi sebuah budaya destruktif yang mengakar di lingkungan sosial.

Sikap emosional yang tidak terkontrol tersebut dikhawatirkan berpotensi merongrong fondasi kerukunan serta merusak iklim kondusif pertahanan NKRI. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung