Repelita [Jakarta] - Sorotan kritis terhadap gaya kepemimpinan serta pola komunikasi internal di lingkaran Istana Presiden Prabowo Subianto kembali hangat dibahas di ruang publik digital.
Unggahan yang disampaikan akun Threads @rio.andikawrr pada 27 Agustus 2026 menyoroti kecenderungan berulangnya pola isolasi informasi di sekeliling kepala negara.
ADVERTISEMENT
Pemilik akun menilai kebiasaan menyaring laporan faktual oleh orang-orang terdekat berpotensi mengulang kekeliruan politik seperti pada pemilu terdahulu.
"Kenapa prabowo trs mengulang kesalahan yg sama dr 2014? Prabowo kalah dengan jokowi bukan karena "persona" Tp karena "budaya persahabatan militernya" Semua informasi di saring, prabowo slalu telat tau kondisi faktual di lapangan Makanya jangan kaget pas kalah pilpres aja dia sujud ngira jadi presiden" tulis akun @rio.andikawrr mengawali analisanya.
Ia menambahkan bahwa bahaya terbesar dalam birokrasi justru datang dari sikap bawahan yang selalu mengondisikan keadaan agar terlihat aman.
"Bawahan yg berbahaya bukan yg tidak loyal, tp justru terlalu loyal dan slalu bilang "YES PAK", " AMAN PAK" perhatikan aja melek setiap prabowo pidato sering bilang "saya dapat laporan, sya dengar, saya tau dari"" tulis akun @rio.andikawrr dalam lanjutan utasnya.
Pada bagian akhir unggahannya ia menilai kekeliruan dalam mempercayai lingkar terdekat bisa merugikan sang pemimpin sendiri.
"2014/19 - salah pilih kawan 2024 terlalu percaya sama kawan Padahal setiap orang punya agenda politik masing2 Poor prabowo :(" tulis akun @rio.andikawrr mengakhiri pandangannya.
Pandangan tersebut memicu beragam reaksi dari pengguna media sosial yang turut menyoroti psikologis para pembantu presiden.
Akun @racaputtt menilai adanya rasa sungkan atau takut dari para anak buah untuk menyampaikan realita yang buruk.
"anak buahnya jg takut bang ngasih berita ga enak kalo bosnya beginian bentukannya wkwkw" tulis akun @racaputtt di kolom komentar.
Sementara itu kritik mengenai kemampuan manajerial sang pemimpin dalam menentukan jajarannya disampaikan oleh warganet lain.
Akun @_toemang menegaskan bahwa penunjukan jajaran yang tidak tepat mencerminkan kapasitas kepemimpinan itu sendiri.
"Memilih bawahan yang salah juga nunjukin inkompetensinya." tulis akun @_toemang memberikan penilaiannya.
Dukungan atas uraian fenomena tersebut juga diutarakan secara singkat oleh pengguna internet lainnya.
Akun @abrahamsim_94 menyampaikan apresiasi terhadap sudut pandang yang diunggah.
"Great opinion." tulis akun @abrahamsim_94 dalam tanggapannya.
Pertanyaan mengenai naluri kritis sang pemimpin dalam memverifikasi data lapangan turut digulirkan oleh warganet.
Akun @lianmardianto mempertanyakan apakah tidak ada upaya pembandingan informasi sebelum sebuah keputusan diambil.
"Bener juga sih bang. Makanya cenderung selalu ABS dan tidak sesuai realita. Tapi masa' iya Prabowo nya juga gak coba cari info lain yg bisa jadi pembanding. Masa' dia langsung percaya gitu aja. Apa dia gak punya nalar kritis lagi dan langsung menelan mentah mentah semua yg diinfokan ke dia" tulis akun @lianmardianto menyuarakan keraguannya.
Sedangkan akun lain mencoba membandingkan gaya kepemimpinan tokoh nasional dalam merespons dinamika informasi publik.
Akun @yosi.hs menilai adanya ketergantungan yang tinggi terhadap laporan tertulis ketimbang peninjauan langsung di lapangan.
"Kalo ucapan legendaris SBY itu "Saya prihatin", ucapan yang sering diucapkan Prabowo itu "Saya terima iaporan ...". Dia tipe pemimpin yang maunya hanya terima laporan. Gak mau meninjau sendiri ke lapangan." tulis akun @yosi.hs mengakhiri diskusi publik tersebut. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads