Berita, Peristiwa

[HEBOH] Bentrokan Pascademo DPR di Pejompongan Memicu Satu Warga Lansia Tewas dan Pelajar Babak Belur

Repelita.net

29 August 2026 15:21 WIB • 557 view

[HEBOH] Bentrokan Pascademo DPR di Pejompongan Memicu Satu Warga Lansia Tewas dan Pelajar Babak Belur
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Aksi unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan gedung DPR RI awal mulanya berlangsung kondusif.

Perwakilan pengunjuk rasa bahkan sempat diterima oleh pimpinan dewan untuk mengawal pengesahan RUU Perampasan Aset yang dijanjikan rampung paling lambat 15 Desember 2026.

ADVERTISEMENT

Meski massa aksi utama telah membubarkan diri usai kesepakatan tersebut, gelombang kerusuhan justru pecah di kawasan Pejompongan Raya yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi demonstrasi.

Imbas dari bentrokan tersebut mengakibatkan warga lokal bernama Faturohman (18) mengalami luka berat, sementara seorang lansia bernama Bambang Setiyawan (59) meninggal dunia.

Faturohman menceritakan detik-detik saat dirinya ditarik secara paksa dari area permukiman oleh sekelompok orang yang terlibat kericuhan.

Korban mengungkapkan kronologi kejadian tersebut dengan mengatakannya secara langsung, "Setelah itu mendorong saya sampai jatuh, (mereka) masuk ke sini dan menarik saya. Narik saya".

Meskipun telah berulang kali menegaskan statusnya sebagai warga setempat, korban tetap digiring secara paksa ke area luar gang.

Penjelasan saat tindak kekerasan terjadi diutarakan oleh korban dengan pernyataan, "Ya sudah saya ngomong ini saya warga sini. Dia enggak percaya, ya sudah saya dibawa ke luar".

Tindakan penganiayaan secara bersama-sama langsung dialami korban begitu tiba di jalan utama.

Korban membeberkan pengeroyokan tersebut lewat kesaksiannya, "Langsung narik ke luar, dan langsung disamperin sama teman-temannya digebugin saya".

Setibanya di area sekitar gedung DPR, korban terus mendapat intimidasi serta dipaksa mengaku sebagai pemicu kerusuhan.

Bentuk kekerasan fisik yang dialaminya dijelaskan oleh korban dengan kalimat, "Ada pemaksaan. Ada (pemukulan) di bagian dada, terus punggung, kepala".

Selain serangan fisik, korban juga dihantam menggunakan benda tumpul menyerupai bilah penggaris atau pisau.

Tenaga pendidik korban bernama Fahmi mengonfirmasi bahwa anak didiknya tersebut ditarik secara paksa dari dalam area permukiman warga.

Fahmi memberikan kesaksian mengenai lokasi kejadian dengan menegaskan, "Padahal posisi anaknya ini dari gang rumah, bukan pinggir jalan ya. Gang dalam rumah ini, silakan dilihatin aja gang dalam rumah bukan pinggir jalan. Ditarik, diseret ke depan, digebugin, ditendang".

Rincian cedera parah pada tubuh korban dipaparkan lebih lanjut oleh Fahmi dalam kesempatan tersebut.

Fahmi menunjukkan kondisi fisik anak didiknya dengan menuturkan, "Boleh silakan (dilihat) biar lebih jelas ada di bagian kepala. Dan dia giginya, kasih lihat tuh, patah dua".

Di tempat terpisah, nasib tragis menimpa Bambang Setiyawan yang tewas usai dianiaya kelompok perusuh di lokasi yang sama.

Ketua RT setempat Aban Sobandi menilai dinamika bentrokan kali ini sangat tidak wajar dan memicu pembenturan antarkelompok.

Aban menyampaikan pengamatannya terkait penanganan situasi dengan menyebutkan, "Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba".

Eskalasi kekerasan makin memuncak saat kelompok tidak dikenal mulai merangsek masuk ke kawasan pemukiman warga.

Aban menguraikan situasi saat kerusuhan pecah dengan menjelaskan, "Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi".

Pihak pengurus lingkungan sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi dengan mengungsikan kelompok warga yang rentan.

Langkah penyelamatan tersebut disampaikan oleh Aban melalui penjelasannya, "Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh".

Sebelum insiden terjadi, korban Bambang sempat mengemas barang dagangan cermin miliknya atas dorongan sang istri.

Istri korban bernama Sudarsi (56) menceritakan momen awal sebelum suaminya pergi keluar rumah.

Sudarsi mengisahkan instruksinya kepada sang suami dengan mengatakan, "Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah".

Usai membantu tetangga yang sakit ke rumah sakit, korban kembali keluar menuju area pertokoan hingga akhirnya dikabarkan tewas pada dini hari.

Pihak keluarga mengetahui kabar duka tersebut setelah rekaman video pengeroyokan beredar luas di jejaring media sosial.

Sudarsi menyampaikan ketahuannya atas musibah tersebut dengan menyatakan, "Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu".

Berdasarkan rekaman gambar serta saksi mata di lokasi, korban diseret dan dihantam berulang kali oleh sekelompok orang.

Aban mengonfirmasi perlakuan kasar yang dialami warganya dengan menyatakan singkat, "(Bambang) Digeret-geret".

Hingga naskah ini ditayangkan, pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya belum memberikan keterangan resmi terkait penanganan kasus tewasnya warga Pejompongan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung