Berita, Nasional

Harga Bright Gas 12 Kg Naik Rp56.000 Jadi Rp248.000 per Tabung, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Anggota DPR Ingatkan ini...

Repelita.net

19 April 2026 14:14 WIB • 1,281 view

Harga Bright Gas 12 Kg Naik Rp56.000 Jadi Rp248.000 per Tabung, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Anggota DPR Ingatkan  ini...
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Harga tiga jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi naik drastis, bahkan ada yang sudah tembus Rp23.900 per liter, sementara harga elpiji Bright Gas atau elpiji nonsubsidi tabung pink ikut melonjak Rp56.000 per tabung.

PT Pertamina (Persero) membagikan kabar kurang sedap bagi pengguna LPG nonsubsidi karena kenaikan harga elpiji Bright Gas mulai berlaku pada Sabtu, 18 April 2026, di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat tensi konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Pertamina telah mengeluarkan surat edaran resmi yang menyatakan bahwa harga jual LPG Non PSO kemasan tabung ritel berlaku untuk penyerahan mulai tanggal 18 April 2026, dengan perihal harga sebelumnya tanggal 18 November 2025 dinyatakan tidak berlaku lagi.

Berikut rincian harga LPG nonsubsidi terbaru yang dikutip dari laman MyPertamina: Bright Gas 12 Kg refill naik menjadi Rp248.000 per tabung dari sebelumnya Rp192.000.

Bright Gas 12 Kg tabung plus isi dibanderol Rp762.000, sementara Bright Gas 5,5 Kg refill naik menjadi Rp127.000 per tabung dari sebelumnya Rp90.000.

Bright Gas 5,5 Kg tabung plus isi dijual Rp410.000, dan Elpiji 12 Kg refill juga dibanderol Rp762.000 per tabung.

Selain LPG, Pertamina juga mencatat kenaikan signifikan pada sejumlah BBM nonsubsidi dengan Pertamax Turbo kini dibanderol Rp19.400 per liter naik dari Rp13.100.

Dexlite kini menyentuh harga Rp23.600 per liter naik dari Rp14.200, sementara Pertamina Dex menjadi yang termahal di angka Rp23.900 per liter naik dari Rp14.500.

Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan BBM nonsubsidi seperti peralihan konsumsi ke BBM subsidi hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ia menyoroti dampak kenaikan BBM nonsubsidi khususnya bagi kelompok kelas menengah yang berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga serta menekan daya beli masyarakat.

Kondisi ini dapat memicu fenomena turun kelas energi, yaitu peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi, kata Firnando dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menjelaskan pergeseran tersebut harus diantisipasi dengan pengawasan yang lebih ketat agar subsidi tetap tepat sasaran dan tidak dinikmati kelompok masyarakat mampu.

Firnando juga mendesak pemerintah mengendalikan dampak tidak langsung melalui sektor logistik dengan mendorong kontrol terhadap tarif logistik melalui pemberian berbagai insentif.

Upaya stabilisasi harga pangan juga menjadi perhatian utama sehingga Firnando meminta pemerintah mengintensifkan langkah seperti operasi pasar dan intervensi distribusi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung