Berita, Internasional

Hadiah Juara Piala Dunia 2026 Spanyol Terancam Pajak AS 30 Persen, Kongres Kecam Kebijakan IRS

Repelita.net

23 July 2026 00:26 WIB • 1,028 view

Hadiah Juara Piala Dunia 2026 Spanyol Terancam Pajak AS 30 Persen, Kongres Kecam Kebijakan IRS
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Tim nasional sepak bola Spanyol sukses merengkuh gelar juara turnamen terakbar sejagat tahun 2026 usai menumbangkan perlawanan wakil Amerika Latin dengan keunggulan tipis satu gol tanpa balas.

Keberhasilan tersebut otomatis membuat skuad juara berhak memboyong pundi-pundi finansial fantastis senilai puluhan juta dolar amerika serikat atau setara dengan ratusan miliar rupiah.

ADVERTISEMENT

Namun nominal bonus kemenangan gemilang itu terancam mengalami potongan pajak federal porsi besar oleh otoritas fiskal setempat yang besarnya bisa menembus hampir sepertiga dari total keseluruhan.

Berdasarkan regulasi domestik yang berlaku, setiap pemasukan yang diperoleh pihak asing dari suatu kegiatan di dalam teritorial negara tersebut wajib menyetor pungutan wajib kepada kas negara.

Kebijakan penarikan bea yang menyasar atlet luar negeri non-residen ini langsung menuai kecaman keras dari sejumlah legislator parlemen pusat karena dianggap merugikan pihak pemenang.

Saya rasa ini adalah perampokan, kata Burchett.

Politisi tersebut menilai aturan fiskal tersebut memberikan sinyal buruk tatkala negara tengah berambisi menarik minat publik global untuk menyelenggarakan berbagai ajang olahraga internasional berskala masif.

Negara seharusnya memfasilitasi pendatang asing agar leluasa membelanjakan kekayaan mereka ketimbang membebani kewajiban fiskal mencekik.

Saya bukan pendukung IRS.

Mereka menghasilkan banyak yang di sini, tapi saya tidak suka itu.

Kami ingin mendorong orang-orang datang ke sini dan menghabiskan uang mereka, dan kita mengambil sebagian besar dari itu, ujarnya.

Kita harus memiliki sistem pajak yang lebih baik, lanjutnya.

Nada serupa juga disuarakan oleh legislator parlemen lainnya yang memandang tarif potongan wajib tersebut sebagai bentuk ketidakadilan sistemik.

Ini salah, dan ini semacam menyoroti sesuatu yang lebih besar, kata Jackson.

Kritik tajam turut diarahkan pada struktur regulasi perpajakan secara makro yang dinilai lebih menguntungkan korporasi ketimbang kaum pekerja kelas bawah.

Mereka seharusnya membayar pajak daripada memiliki celah pajak.

Masyarakat, para pekerja yang bekerja, mereka seharusnya tidak membayar 30 persen pajak dari pendapatan mereka, kata Jackson.

Meski sepakat bahwa persentase potongan tersebut terlalu memberatkan, seorang politisi lain justru memandang positif dampak penyelenggaraan turnamen sepak bola akbar tersebut bagi generasi muda.

Saya sangat menghargai sepak bola sekarang.

Saya pikir ini akan menjadi pendobrak bagi banyak anak-anak kita.

Jadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada presiden dan semua orang yang mewujudkan ini.

Sayangnya, begitulah kenyataan di negara kita yang penuh pajak ini, kata Owens.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung