Berita, Viral Sosmed

[GERAM] Sigit Widodo Sebut BJ Habibie Tidak Punya Ijazah Sarjana, Ririn Arisvara Tegaskan Perbandingannya Tidak Nyambung

Repelita.net

11 October 2026 12:12 WIB • 48 view

[GERAM] Sigit Widodo Sebut BJ Habibie Tidak Punya Ijazah Sarjana, Ririn Arisvara Tegaskan Perbandingannya Tidak Nyambung
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pernyataan terbuka dari seorang politisi mengenai riwayat akademis mantan kepala negara memicu reaksi keras serta perdebatan hangat di kalangan publik.

Sorotan tajam tersebut mengemuka menyusul adanya perbandingan yang dinilai tidak sepadan antara syarat kelulusan pejabat negara saat ini dengan tokoh besar bangsa.

ADVERTISEMENT

Informasi mengenai polemik tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @ahkarinn pada hari Minggu, 11 Oktober 2026 yang lalu.

Pemilik akun mengungkapkan rasa terkejutnya setelah membaca pernyataan yang dikeluarkan oleh politisi Partai Solidaritas Indonesia, Sigit Widodo.

"Jujur aku kaget baca unggahan politisi PSI Sigit Widodo di X, Jumat 9 Oktober 2026: "Presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, tidak memiliki ijazah sarjana," ditutup sindiran bahwa dengan logika penggugat ijazah Gibran, "Pak Habibie hanya lulus SMA karena tidak bisa menunjukkan ijazah S1."" tulis akun @ahkarinn menjabarkan fakta di awal narasinya.

Menanggapi klaim tersebut, pengecekan terhadap rekam jejak akademis sang teknokrat dunia langsung dipaparkan untuk meluruskan sejarah.

Berdasarkan data otentik, B.J. Habibie menyelesaikan pendidikan di SMAK Dago Bandung pada tahun 1954 sebelum melanjutkan studi singkatnya di dalam negeri.

Beliau sempat mengenyam pendidikan sekitar enam bulan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung, yang saat ini telah berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung.

Perjalanan akademisnya kemudian berlanjut ke Jerman Barat hingga berhasil meraih gelar Diplom-Ingenieur di RWTH Aachen pada tahun 1960.

"Gelar itu adalah program universitas penuh lima tahun sistem Jerman lama, di Indonesia disetarakan dengan S1 sekaligus S2," urai akun @ahkarinn menerangkan klasifikasi tingkat akademis tersebut.

Pendidikan tingkat tinggi tersebut masih berlanjut hingga B.J. Habibie sukses merengkuh gelar Doktor-Ingenieur pada tahun 1965 dengan capaian kelulusan yang sangat memuaskan.

Oleh karena itu, penyamaan logika antara kasus dokumen kelulusan yang dipermasalahkan di Mahkamah Konstitusi dengan riwayat sejarah sang mantan presiden dinilai keliru.

"Perbandingannya juga tidak nyambung," tegas akun @ahkarinn saat memberikan analisis tajam mengenai perbedaan substansi perkara tersebut.

Fokus persoalan yang tertuang dalam keputusan hukum pada tanggal 6 Oktober 2026 adalah mengenai keabsahan berkas tamat sekolah menengah tingkat atas milik wakil presiden.

Hal itu terjadi lantaran dokumen resmi yang disetorkan ke Komisi Pemilihan Umum disinyalir hanya berupa surat keterangan kehadiran atau certificate of attendance.

Sementara itu, keabsahan dokumen kelulusan sekolah milik B.J. Habibie sejak awal tidak pernah menjadi komoditas perselisihan oleh pihak manapun.

Berselang satu hari pasca keputusan tersebut, mantan menteri koordinator bidang politik hukum dan keamanan ikut memberikan sebuah pernyataan menohok kepada media.

"dicari sampai mati, tak ada ijazah Gibran," ucap Mahfud MD seperti yang dikutip oleh akun @ahkarinn di bagian akhir unggahannya.

Ungkapan dari politisi tersebut juga memicu kemarahan dari pengguna media sosial lain yang menganggap perbandingan itu sebagai bentuk perendahan martabat tokoh bangsa.

Reaksi kekecewaan mendalam tersebut dituangkan secara blak-blakan oleh akun @lubeng40 dalam kolom interaksi digital.

"Besi karat dibandingkan dengan emas, apakah pantas.ini jelas sebuah penghinaan bukan saja almarhum tapi semua rakyat Indonesia yang masih waras, mungkin tidak untuk yang otaknya sudah konslet." tulis akun @lubeng40 tanpa mengubah kalimatnya.

Di sisi lain, publik juga kembali mengingatkan kontribusi nyata sang profesor dalam dunia penerbangan internasional yang diakui secara global.

Catatan emas mengenai pencapaian riset keilmuan tersebut ditambahkan secara gamblang oleh akun @dewaajirakariasnata di ruang diskusi yang sama.

"Ilmuwan: Habibie menempuh studi teknik penerbangan di Jerman (RWTH Aachen) dan meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude. Ia dikenal dunia berkat "Teori Habibie" (atau crack progression) untuk menghitung keretakan badan pesawat, yang memberinya julukan "Mr. Crack"" tulis akun @dewaajirakariasnata memaparkan riwayat ilmiah secara utuh.

Manfaat dari hasil penelitian orisinal tersebut terbukti masih menjadi fondasi utama dalam sistem keselamatan transportasi udara tingkat dunia.

Pernyataan penguat mengenai eksistensi rumus penemuan tersebut ditegaskan kembali oleh akun @hadi.real97 di kolom komentar bawah.

"Dan teorinya masih dipakai dalam industri pembuatan pesawat terbang sampai sekarang" tulis akun @hadi.real97 mengakhiri jalannya pembahasan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung