Repelita [Jakarta] - Pimpinan tertinggi organisasi relawan loyalis pemerintah menilai karya sinema dokumenter garapan sineas independen yang mengulas dinamika sosial di bumi cenderawasih sarat akan muatan penggiringan opini publik.
Kritik tajam tersebut dialamatkan karena narasi visual yang disajikan dianggap bias dan sengaja mengaburkan fakta objektif mengenai kesuksesan proyek strategis nasional yang telah diupayakan oleh otoritas eksekutif.
ADVERTISEMENT
Tudingan ketidakseimbangan muatan konten sinema tersebut dilayangkan oleh sang tokoh loyalis dalam sebuah forum diskusi penyiaran televisi nasional melalui argumentasi kekecewaan berupa “Di sini yang tidak berimbang masalah film itu tadi. Di sini tidak memunculkan apa saja yang dilakukan pemerintahan, dari mulai Presiden sebelumnya sampai Presiden Prabowo saat ini, itu seolah-olah pemerintah itu tidak punya prestasi di Papua,” pada pertengahan Mei dua ribu dua puluh enam.
Ia memberikan contoh konkret berupa pembukaan jalur logistik darat trans-Papua yang membelah rute wilayah barat hingga ke sektor timur sebagai bukti nyata keseriusan negara.
Ekspansi sektor agraris berupa konversi perkebunan komoditas utama serta pembukaan lumbung pangan baru di wilayah timur juga diyakini bakal menjadi motor penggerak akselerasi kesejahteraan wilayah setempat.
Rasa optimistis mengenai prospek ekonomi jangka panjang bagi masa depan masyarakat bumi cenderawasih tersebut dipertegas oleh sang ketua organisasi lewat penuturan “Saya yakin ke depannya setelah terbukanya perkebunan kelapa sawit maupun sawah baru, saya yakin ke depannya Papua pun bisa mengimbangi provinsi-provinsi lainnya,” dari ruang siar.
Dirinya mengkhawatirkan disparitas tingkat pemahaman intelektual dari para penonton domestik yang berisiko memicu lahirnya distorsi informasi serta kesimpulan yang keliru terhadap pesan terselubung dalam sinema tersebut.
Potensi terjadinya friksi horizontal akibat perbedaan penafsiran visual di tengah lapisan masyarakat diwanti-wanti oleh sang tokoh lewat pernyataan “Ini tidak boleh terjadi, karena pemahaman dari film ini, nggak semua orang yang nonton film ini bisa memahami maksud dan tujuan dari adegan-adegan yang ada di film itu,” di hadapan pemirsa.
Pihak loyalis memberikan garansi bahwa nakhoda pemerintahan pusat saat ini berkomitmen penuh untuk merangkul seluruh elemen masyarakat lokal melalui mekanisme evaluasi berkala terhadap setiap kendala pembangunan di lapangan.
Kebijakan akomodatif serta keterbukaan kepemimpinan nasional dalam merespons dinamika pembangunan daerah ditegaskan oleh sang narasumber melalui jaminan berupa “Prabowo merangkul semuanya. Kalaupun terjadi kekurangan-kekurangan, tentu akan menjadi evaluasi supaya ke depannya bisa ditingkatkan,” secara lugas.
Ia menyayangkan sikap tim produksi film yang dianggap menutup mata secara sengaja terhadap deretan capaian positif otoritas publik demi menonjolkan aspek kegagalan semata.
Sikap kritis tersebut diakhiri dengan sebuah seruan moral kepada para pegiat industri kreatif agar bersikap adil dalam menilai kinerja birokrasi lewat penegasan “Jadi intinya saya garis bawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah di Papua harus diapresiasi juga dong ya, jangan semua salah,” sebagai penutup ulasan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok