Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam kembali mengemuka di ruang publik digital mengenai klaim penguasaan sumber daya alam serta kebijakan ekonomi negara.
Perbincangan hangat tersebut mengemuka setelah akun media sosial @Opposite6888 membagikan unggahan pada 16 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam unggahan itu, dibahas kritikan mengenai klaim kedaulatan ekonomi yang dinilai tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan warga.
Pengguna akun @Opposite6888 menuliskan pandangannya secara komprehensif.
"Tulisan Denny Siregar ini mengingatkan kembali saat Mulyono dulu juga berjanji seperti ini.
Freeport dikuasai Indonesia.
Blok Mahakam kembali ke Pertamina.
SDA akan dikelola sendiri.
Mineral dan komoditas strategis akan diatur negara.
Indonesia akan menjadi negara besar, mandiri, berdaulat secara ekonomi.
Dulu kita disuguhi cerita tentang “51% Freeport milik Indonesia” seolah-olah setelah itu rakyat Indonesia otomatis hidup lebih sejahtera.
Blok Mahakam juga dikembalikan ke Pertamina dan dipresentasikan sebagai simbol kedaulatan energi.
Sekarang membualnya naik level !
Negara mau membuat bursa mineral dan komoditas strategis agar harga SDA bisa diatur dari dalam negeri.
Kedengarannya luar biasa.
Tapi pertanyaannya sederhana, setelah semua “kedaulatan” itu, rakyat dapat apa ?
Harga kebutuhan tetap naik.
Rakyat dijerat Pajak dan pungutan liar tapi di “legal”kan.
Lapangan pekerjaan sulit.
Gelombang besar PHK.
Daya beli masyarakat turun.
Jadi sekarang rakyat mulai alergi mendengar kata “demi rakyat”.
Karena selama bertahun-tahun rakyat sudah terlalu sering disuguhi presentasi tentang masa depan.
Yang dibicarakan selalu 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan.
Tapi sementara rakyat hidupnya hari ini.
Tagihan hari ini.
Cicilan hari ini.
Harga kebutuhan hari ini.
Cari kerja hari ini.
Kalau memang SDA kita sudah semakin berdaulat, kalau negara semakin menguasai sumber daya strategis, kalau Indonesia semakin mandiri tapi kenapa rakyat justru semakin sering diminta berkorban ?
Dari Mulyono sampai pemerintahan sekarang, rakyat terus diminta percaya pada janji besar berikutnya.
Dulu : tunggu hasil hilirisasi.
Lalu : tunggu manfaat penguasaan SDA.
Sekarang : tunggu sistem baru, bursa baru, kebijakan baru.
Dan rakyat ?
Tetap disuruh menunggu sampai akhirnya beberapa pulau di RI minta MERDEKA !
Mungkin inilah hebatnya politik kita.
Kalau hasilnya belum terasa, solusinya bukan evaluasi tapi cukup bikin janji yang lebih besar.
Karena ternyata di Indonesia, masa depan selalu terdengar sangat indah..
sampai rakyat sadar bahwa mereka sudah menunggu terlalu lama..
Btw ini si Densi sudah mulai masuk anying sepertinya.."
Unggahan tersebut langsung memicu perdebatan serta respons dinamis dari para pengguna jagat maya.
Akun @eddesign_ memberikan pandangannya mengenai penguasaan sektor hilirisasi.
"Sampe mundur itu Densi karena ketepu berat Jokowi ha ha
Semua tampak hebat di narasi. Gimana realisasinya? Yg paling sederhana ajalah: sebagian besar teknologi & investasi smelter hilirisasi itu masih dikuasai asing atau swasta besar, sehingga laba bersih gak akan otomatis kembali ke kas negara!"
Pemilik akun @Opposite6888 merespons tanggapan tersebut dengan menyoroti konsistensi narasi yang beredar.
"Betul dan sekarang dia malah ngomong gini tentang Pemerintahannya PS
Ini persis yang dia dulu bela Mulyono juga begini narasinya."
Tanggapan singkat kemudian dilontarkan kembali oleh akun @eddesign_ atas penjelasan tersebut.
"Beneran nih!?"
Kritik lain turut disampaikan oleh akun @AkamuAd yang menggambarkan kekecewaan warga.
"Rakyat disuguhi janji manis tapi hasilnya pahit seperti daun patrawali"
Pernyataan tersebut disetujui langsung oleh pengunggah utama melalui akun @Opposite6888.
"Benar"
Sementara itu, akun @siapmaju menyoroti penggunaan slogan-slogan puji diri yang kerap dipakai.
"Alergi juga dengan kalimat " ini pertama kalinya sejak Indonesia merdeka", Terdengar keren tapi kosong."
Respons singkat kembali diberikan oleh akun @Opposite6888 terhadap komentar tersebut.
"Betul"
Sudut pandang berbeda mengenai dinamika profesi serta pilihan sikap disampaikan oleh akun @Rikoochier.
"Densi itu udah ketemu passionnya di film, skalian dia mata pencariannya disitu, dilapangan dia ketemu fakta bahwa semua berhubungan dg penguasa, klo dia gak manut macet tu barang...kepalang tanggung , dia ikutin aturan mainnya, tp dia lupa udah meninggalkan jati dirinya" (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Sampe mundur itu Densi karena ketepu berat Jokowi ha ha 😂
— EDD (@eddesign_) August 16, 2026
Semua tampak hebat di narasi. Gimana realisasinya? Yg paling sederhana ajalah: sebagian besar teknologi & investasi smelter hilirisasi itu masih dikuasai asing atau swasta besar, sehingga laba bersih gak akan otomatis…