Berita, Palestina

Geger! Fakta Mengerikan Dibalik Kejinya Israel Rampas Tanah Warga Palestina di Tepi Gaza Terungkap Bikin Dunia Terdiam

Repelita.net

23 April 2026 16:41 WIB • 974 view

Geger! Fakta Mengerikan Dibalik Kejinya Israel Rampas Tanah Warga Palestina di Tepi Gaza Terungkap Bikin Dunia Terdiam
Foto: Istimewa

Repelita Gaza - Sebuah fakta mengerikan di balik kejinya Israel merampas tanah warga Palestina di Tepi Gaza akhirnya terungkap dan membuat seluruh dunia terdiam.

Pakar hak asasi manusia dan hukum melaporkan bahwa tentara serta pemukim Israel menggunakan kekerasan berbasis gender, pelecehan, hingga serangan seksual untuk memaksa warga Palestina angkat kaki dari rumah mereka.

ADVERTISEMENT

Disitat dari laporan Guardian pada Selasa (21/4), sebuah kelompok organisasi kemanusiaan internasional mengungkapkan bahwa tindakan asusila ini sengaja dilakukan secara sistematis untuk merusak mental komunitas lokal.

Tujuannya tidak lain adalah agar warga Palestina menyerah dan pergi meninggalkan tanah leluhur mereka tanpa perlawanan berarti.

"Selain itu, praktek kekerasan seksual digunakan untuk menekan komunitas, membentuk keputusan tentang tetap tinggal atau meninggalkan rumah dan tanah mereka, dan mengubah pola kehidupan sehari-hari," kata kelompok organisasi tersebut dalam laporan resmi mereka.

Laporan yang bertajuk Sexual Violence as a tool for forcible transfer in the west bank ini merinci eskalasi kekerasan seksual yang terjadi sejak tahun 2023.

Berdasarkan hasil survei di lapangan, ketakutan akan serangan seksual menjadi faktor utama warga memutuskan untuk mengungsi demi keselamatan keluarga mereka.

"Para peserta menggambarkan pelecehan seksual sebagai momen ketika ketakutan berubah dari kronis menjadi tidak tertahankan. Mereka berbicara tentang menyaksikan perempuan dan anak perempuan menanggung penghinaan dan menghitung apa yang mungkin terjadi selanjutnya," tulis laporan tersebut.

Salah satu kesaksian paling mengerikan datang dari seorang wanita yang rumahnya diserbu oleh tentara dan pemukim Israel secara membabi buta.

Ia dipaksa melakukan prosedur penggeledahan badan yang sangat tidak manusiawi dan menyakitkan tepat di dalam rumahnya sendiri tanpa ada rasa hormat sedikitpun.

"Dia menggambarkan diperintahkan untuk membuka kakinya dengan cara yang menyebabkan rasa sakit, dan dia menggambarkan komentar menghina serta sentuhan pada area intim," ungkap laporan itu dengan detail yang mencengangkan.

Kifaya Khraim, Manajer Unit Advokasi di Women's Centre for Legal Aid and Counselling (WCLAC), menyatakan bahwa situasi ini telah memicu dampak sosial yang sangat parah di masyarakat Palestina.

Banyak anak perempuan yang terpaksa putus sekolah dan dinikahkan secara dini oleh orang tua mereka sebagai upaya perlindungan terakhir dari ancaman kekerasan seksual.

"Anak-anak perempuan tidak pergi ke sekolah, dan Anda melihat pernikahan dini yang dipaksakan. Mereka ini adalah anak di bawah umur, tetapi kami tahu ibu dan ayah mereka mencoba melindungi mereka dengan mengirim mereka keluar dari daerah tersebut," ujar Khraim dengan nada prihatin.

Khraim juga menambahkan bahwa dampak ekonomi sangat terasa bagi para perempuan di Tepi Gaza akibat teror yang terus menerus mengintai setiap hari.

Banyak dari mereka yang kini terisolasi di dalam rumah karena ancaman serangan yang mengintai di setiap pos penjagaan maupun di jalanan umum.

"Perempuan kehilangan pekerjaan karena mereka tidak bisa berangkat kerja karena kekerasan seksual dan kemudian memutuskan untuk tinggal di rumah," tambahnya menggambarkan penderitaan yang dialami para korban.

Namun demikian, Khraim meyakini bahwa data yang berhasil dikumpulkan saat ini hanyalah fenomena gunung es dari realitas yang sebenarnya jauh lebih mengerikan.

Banyak penyintas yang memilih bungkam selamanya karena stigma sosial yang sangat berat di masyarakat terkait korban kekerasan seksual.

"Ini mungkin hanya satu persen dari kasus yang ada, dan kami harus melakukan banyak penelitian di komunitas lokal hanya untuk mendapatkan kepercayaan agar orang-orang mau menceritakan kasus-kasus ini kepada kami," jelasnya dengan jujur.

Sementara itu, Milena Ansari selaku Kepala Departemen Wilayah Palestina yang Diduduki di Physicians for Human Rights - Israel, menyoroti adanya pembiaran secara hukum yang dilakukan otoritas Israel.

Para pelaku kekerasan seksual terhadap warga Palestina jarang sekali dituntut apalagi dihukum berat oleh sistem peradilan Israel yang timpang.

"Pejabat Israel secara efektif memberikan lampu hijau bagi penggunaan kekerasan seksual ketika mereka memutuskan untuk tidak menuntut kasus yang paling menonjol, yang terdokumentasi dengan sangat baik," katanya mengecam keras.

Menurut Ansari, diskusi di tingkat pemerintahan Israel pun menunjukkan sikap yang sangat mengkhawatirkan terkait hak-hak dasar warga Palestina.

Ia melihat bahwa tidak ada batasan moral yang tegas dalam memperlakukan tahanan atau warga sipil Palestina di mata aparat Israel.

"Ada budaya menerima serangan seksual terhadap warga Palestina. Ada diskusi di Knesset tentang apakah boleh atau tidak memerkosa orang Palestina. Bahkan perdana menteri tidak mengatakan bahwa Israel menentang pemerkosaan terhadap tahanan," pungkas Ansari mengakhiri pernyataannya yang mengguncang dunia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung