Berita, Nasional

Gatot Nurmantyo Buka Alasan Dicopot Jokowi: Saya Menolak Naikkan Pangkat Perwira Bermasalah

Repelita.net

04 May 2026 21:12 WIB • 993 view

Gatot Nurmantyo Buka Alasan Dicopot Jokowi: Saya Menolak Naikkan Pangkat Perwira Bermasalah
Foto: Istimewa

Repelita Yogyakarta - Suasana forum Milad Partai Ummat di Yogyakarta tiba-tiba berubah tegang ketika mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo memutuskan untuk membuka kartu yang selama hampir satu dekade tersimpan rapat.

Dalam gaya khasnya yang lugas tanpa jeda dramatis berlebihan, ia menyebut alasan di balik pencopotannya oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo bukan sekadar soal rotasi jabatan biasa.

ADVERTISEMENT

“Ya sudah ditendanglah saya,” kata Gatot setengah tertawa namun tetap tegas dalam pernyataannya pada acara tersebut.

Narasi yang dibangun Gatot tidak berdiri di ruang kosong karena ia menjalin pengalamannya dengan praktik yang ia sebut sebagai politik sandera.

Politik sandera adalah sebuah mekanisme tidak tertulis di mana rekam jejak pribadi menjadi alat kontrol dalam menentukan strategi promosi jabatan khususnya di tubuh militer.

Dalam ceritanya Gatot mengaku pernah diminta untuk menaikkan pangkat seorang perwira menjadi bintang tiga.

Namun ia memilih untuk memeriksa latar belakang perwira tersebut secara mendalam sebelum mengambil keputusan.

Hasilnya menurut Gatot ditemukan sejumlah catatan yang membuatnya tertahan dalam memberikan promosi tersebut.

“Saya terima kasih lembaran—ini kesalahanmu, mau dilanjutkan apa tidak?” katanya menggambarkan proses pemeriksaan yang ia lakukan.

Keputusan itu yang dalam logika profesional militer adalah bentuk kehati-hatian justru disebut menjadi awal retaknya hubungan kekuasaan antara dirinya dan Presiden Jokowi.

Ketika permintaan untuk menaikkan pangkat tidak diikuti oleh Gatot, konsekuensinya datang dengan cepat.

Masa jabatannya sebagai Panglima TNI berakhir lebih cepat yaitu empat bulan sebelum masa pensiun normalnya tiba.

Di luar kisah pribadi itu Gatot memperluas perspektifnya ke tingkat yang lebih besar dan global.

Ia menyoroti bagaimana kekuasaan global kini tidak lagi bertumpu pada senjata konvensional tetapi pada sistem ekonomi.

Sistem yang dimaksud adalah mata uang, energi, dan kontrol ekonomi yang dijalankan oleh negara-negara adidaya.

Ia merasakan persaingan sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam merebut pengaruh global.

Gatot juga mengamati strategi Iran dalam memainkan jalur energi dunia di tengah konflik dengan Amerika dan Israel.

Namun benang merah dari semua pengamatannya tetap kembali ke negeri sendiri yaitu Indonesia.

Indonesia menurut Gatot tidak akan pernah benar-benar naik kelas jika politik dan institusi negara masih rapuh.

“70 persen itu politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan,” ujarnya merumuskan formula keberhasilan sebuah bangsa.

Ia juga memperingatkan praktik korupsi yang dianggapnya sudah menjadi perhitungan bisnis biasa tanpa rasa bersalah.

Gatot menyoroti lemahnya sistem hukum Indonesia yang membuat efek jera bagi para koruptor nyaris hilang sama sekali.

Dalam konteks itu ia menyebut bahwa pemimpin tanpa beban masa lalu adalah kunci kemajuan bangsa.

Pemimpin yang tidak mudah disandera oleh kepentingan masa lalu hanya mereka yang bisa membawa perubahan nyata.

Di ujung pernyataannya Gatot tidak sekadar bercerita tentang masa lalunya sebagai panglima.

Ia seperti sedang menitipkan pesan bahkan kekhawatiran tentang masa depan generasi penerus bangsa.

“Saya punya cucu,” ucapnya dengan suara pelan namun tajam menusuk.

“Saya titip masa depan mereka,” lanjut Gatot dengan nada penuh harap sekaligus cemas.

Di situlah letak daya pukul pernyataannya bukan sekadar membuka masa lalu dirinya sendiri.

Gatot mengajak publik untuk membaca ulang bagaimana kekuasaan bekerja selama ini.

Pertanyaan besarnya adalah siapa yang sebenarnya mengendalikan jalannya politik dan institusi negara.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung