Repelita Jakarta - Sebuah siaran informatif disiarkan lewat akun YouTube milik Suara Rocker yang membedah gejolak pasar modal domestik akibat sentimen makroekonomi global serta dinamika kebijakan fiskal.
Dalam tayangan diskusi interaktif tersebut, ekonom senior sekaligus pengamat finansial yakni Ferry Latuhihin memberikan peringatan keras kepada para pemodal ritel agar berhati-hati dalam mengambil keputusan taktis.
ADVERTISEMENT
Pembicara tersebut menguraikan analisisnya mengenai tekanan yang bertubi-tubi melanda lantai bursa domestik seiring maraknya aksi pelepasan portofolio saham oleh investor mancanegara belakangan ini.
Pemaparan yang sarat akan proyeksi pergerakan pasar saham dan data realisasi instrumen valuta asing ini dipublikasikan secara meluas melalui kanal YouTube Suara Rocker pada hari Senin tanggal dua belas Oktober tahun dua ribu dua puluh enam.
Ferry Latuhihin menyatakan, "indeks turun hampir 2% dan berada pada level di bawah 6.000 tepatnya di 5975 persis sesuai dengan ramalan saya yang menggunakan simulasi Monte Cararlo dan bukan sangat tidak mungkin ya bisa juga indeks masih akan tertekan ke 5.500 jadi saya tetap tidak merekomendasikan siapapun untuk bermain saham dan juga terbukti ya saham-saham perbankan ya itu berguguran ini hari bca tadi ditutup di bawah 6.000 teman-teman ya."
Pernyataan yang disampaikan secara tegas pada tanggal dua belas Oktober tahun dua ribu dua puluh enam ini menyoroti lesunya saham-saham unggulan sektor perbankan yang selama ini menjadi primadona investasi.
Dirinya menjabarkan fenomena hengkangnya modal asing dari pasar modal senilai puluhan triliun rupiah sebagai dampak langsung dari defisit APBN nasional yang kian membengkak.
Ulasan utuh ini disebarkan guna mengedukasi publik agar tidak gegabah melakukan aksi spekulasi beli di tengah ketidakpastian postur anggaran fiskal pemerintah yang dinilai terbebani program kurang produktif.
Ketegangan arus modal internasional dan pelemahan nilai tukar mata uang rupiah memang kerap kali memicu kekhawatiran serius di sektor riil industri nasional.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pakar ekonomi menuntut otoritas moneter agar melakukan langkah kedisiplinan spending negara secara transparan demi menjaga stabilitas fundamental makro ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok