Repelita Jakarta - Langkah diplomasi luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini tengah menjadi sorotan tajam komunitas internasional karena dinilai memainkan strategi kontradiktif antara blok Timur dan Barat.
Sejumlah pengamat global melontarkan sindiran terhadap manuver Jakarta yang dianggap mencoba merangkul Rusia di sektor energi, namun secara bersamaan membuka pintu lebar bagi kepentingan militer Amerika Serikat di wilayah udara Indonesia.
ADVERTISEMENT
Sebuah akun media sosial X yang bernama China Pulse (@Eng_china5) pada Selasa (14/4) menyebut langkah Indonesia sebagai strategi yang "Tidak Biasa" melalui unggahan yang menyertakan video kontras pertemuan Prabowo dengan Vladimir Putin di Moskow bersandingan dengan pertemuan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Pete Hegseth di Pentagon, Washington.
Narasi yang berkembang di kancah internasional menyoroti bagaimana Indonesia secara simultan mencoba mengamankan kepentingan energi melalui dukungan dari Rusia.
Namun di saat yang bersamaan, Indonesia dituding oleh berbagai pihak telah menawarkan semacam konsesi kedaulatan kepada Amerika Serikat demi memperoleh kerja sama di bidang pertahanan.
Poin paling krusial dalam pusaran sorotan global tersebut adalah upaya pejabat Pentagon untuk mendapatkan tanda tangan Indonesia dalam sebuah perjanjian yang memberikan izin penuh bagi pesawat militer Amerika Serikat untuk melintasi wilayah udara Indonesia secara bebas tanpa mekanisme persetujuan kasus per kasus.
Langkah pragmatis ini dinilai oleh para pengamat sebagai upaya Jakarta untuk tidak berpihak secara gamblang, namun tetap berusaha meraih keuntungan maksimal dari kedua negara adidaya yang sedang bersaing.
Kritikan tajam pun bermunculan terkait sejauh mana kedaulatan wilayah udara nasional dipertaruhkan oleh pemerintah hanya demi sebuah kesepakatan militer dengan Washington.
Indonesia kini berada di bawah mikroskop global yang mempertanyakan apakah Jakarta mampu mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif tanpa kehilangan kendali atas wilayah kedaulatannya sendiri di tengah panasnya persaingan antara Amerika Serikat dan Rusia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok