Berita, Nasional

Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz Lebih 40 Hari, Pemerintah Koordinasi Intensif dengan Iran

Repelita.net

18 April 2026 17:16 WIB • 1,207 view

Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz Lebih 40 Hari, Pemerintah Koordinasi Intensif dengan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sorotan kini tertuju pada dua kapal milik PT Pertamina yang beroperasi di jalur strategis Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Memanasnya konflik tersebut membawa dampak besar terhadap salah satu jalur energi paling vital di dunia yang biasanya dipadati lalu lintas kapal pengangkut minyak dan gas.

ADVERTISEMENT

Kini aktivitas di kawasan ini justru tersendat karena banyak kapal memilih menahan diri, berhenti sementara, atau menunggu di sekitar perairan Teluk Persia demi menghindari risiko.

Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer, ancaman serangan, hingga pembatasan pelayaran yang membuat jalur sempit tersebut berubah menjadi area berisiko tinggi.

Laporan menyebutkan sejumlah kapal tanker tertahan dan enggan melintas, sementara sebagian lainnya bahkan memilih berbalik arah karena adanya blokade serta meningkatnya ancaman keamanan.

Di tengah kondisi tersebut, dua kapal tanker milik Pertamina turut menjadi perhatian karena dikabarkan belum berhasil melintasi Selat Hormuz hingga kini.

Pemerintah Indonesia masih berupaya mengamankan izin bagi kapal tanker minyak nasional untuk melintasi Selat Hormuz di tengah situasi geopolitik yang belum stabil akibat konflik.

Dalam konferensi pers pada Kamis, 16 April 2026, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menegaskan pentingnya menjamin kebebasan navigasi di jalur vital tersebut.

Pemerintah Indonesia juga mengecam segala bentuk ancaman terhadap kapal komersial dan awaknya serta menekankan keselamatan maritim sebagai prioritas utama.

Menurut Vahd, pemerintah terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Iran guna memastikan kelancaran perjalanan dua kapal tanker yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Kami telah secara intensif berkoordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran untuk menindaklanjuti sinyal positif dari pemerintah Iran pada pertengahan Maret, ujar Vahd.

Meski demikian, hingga kini belum ada perkembangan signifikan karena kedua kapal tanker Indonesia tersebut masih tertahan lebih dari 40 hari sejak pembatasan lalu lintas diberlakukan oleh Iran.

Kabar soal dua kapal Pertamina tersebut semakin mencuat setelah ceramah pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Gus Miftah mengatakan bahwa dua kapal tanker Pertamina berhasil lolos melewati Selat Hormuz lantaran hasil diplomasi Prabowo, sehingga harga BBM di Indonesia tidak naik.

Hebatnya Pak Prabowo, di saat kapal yang melintas dicegat Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak atas diplomasi Pak Prabowo boleh melewati Selat Hormuz, itu salah satu penyebab BBM Indonesia tidak naik, kata Gus Miftah dalam ceramahnya.

Sementara itu, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan bahwa dua kapal tanker Pertamina dalam waktu dekat akan dapat melintasi Selat Hormuz karena hanya tinggal menyelesaikan kendala teknis.

Pernyataan tersebut disampaikan Kaesang usai menerima Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kantor DPP PSI pada Kamis, 16 April 2026.

Tadi juga sudah disampaikan akan segera bisa, karena hanya tinggal mengurus sedikit technical issue yang akan segera selesai, ujar Kaesang.

Dalam pertemuan tersebut, Kaesang juga menyampaikan ucapan selamat kepada Iran atas pemimpin barunya yakni Mojtaba Khamenei.

Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, menyoroti nasib kapal tanker Indonesia yang hingga kini belum bisa melintas dan menduga hal ini terkait dengan posisi diplomasi Indonesia.

Masih dipertanyakan kenapa kapal tanker Indonesia belum bisa melintas, ini mungkin dampak dari kebijakan luar negeri kita, tutur Faisal.

Ia menilai keberanian Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz telah membalikkan keadaan dalam peta kekuatan geopolitik.

Iran yang bakal menentukan kapan perang berakhir, selama Amerika melancarkan agresi, Iran akan tetap bertahan dengan menutup selat itu, tandas Faisal.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung