Repelita Jakarta - Angin di perairan Selat Hormuz belum sepenuhnya reda, namun dua kapal milik Pertamina sudah bersiap untuk bergerak setelah hampir dua bulan tertahan oleh eskalasi konflik di kawasan tersebut.
PT Pertamina International Shipping mengonfirmasi tengah menyusun langkah matang agar dua armadanya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi jalur pelayaran paling krusial sekaligus paling sensitif di dunia.
ADVERTISEMENT
Keputusan Iran untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz menjadi sinyal penting, namun bagi operator kapal hal ini bukan sekadar lampu hijau untuk berlayar melainkan perintah untuk berhitung lebih cermat.
Pejabat sementara Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyebut perusahaan kini berada dalam mode siaga penuh dengan rencana pelayaran yang disusun secara detail.
Rencana tersebut meliputi pemetaan rute, identifikasi potensi risiko, penggunaan navigasi elektronik, hingga penyusunan skenario darurat jika situasi berubah di tengah laut.
Di balik layar, koordinasi berjalan intensif karena Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia ikut membuka jalur komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait di kawasan.
Pihak asuransi, manajemen kapal, hingga pemilik kargo turut dilibatkan untuk memastikan semua izin dan standar keselamatan terpenuhi sebelum kapal berlayar.
Prioritas yang ditekankan perusahaan bukanlah kecepatan, melainkan keselamatan awak kapal, badan kapal, dan muatan sebagai tiga titik yang tidak boleh terganggu.
Data pelacakan dari Vessel Finder menunjukkan kedua kapal tersebut masih berada di wilayah Teluk Persia, dengan Pertamina Pride terdeteksi di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi.
Sementara itu, Gamsunoro terpantau berada di sekitar perairan Dubai, Uni Emirat Arab, seperti menunggu aba-aba di tengah laut yang belum sepenuhnya tenang.
Jika pelayaran ini berhasil, ia bukan hanya membuka jalur distribusi energi tetapi juga mengirim pesan bahwa di tengah konflik, roda pasokan global tetap mencari jalan untuk berputar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok