Repelita Jakarta - Dinamika politik tanah air pascaputusan Mahkamah Konstitusi terkait keabsahan dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu reaksi kemarahan publik di ruang digital.
Analisis mengenai fenomena perbincangan ini diungkapkan dalam tayangan siniar yang diunggah kanal YouTube Forum Keadilan TV.
ADVERTISEMENT
Dalam program tersebut, Host Margi Syarif berbincang bersama Lead Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid.
Rizal Nova Mujahid membeberkan temuan data berupa ratusan juta interaksi digital masyarakat yang mengekspresikan kekecewaan atas polemik hukum tersebut.
"apakah ada kemarahan publik pasca perusahaan MK ini mau diapain nih perusahaan MK kita lihat emosinya ya Bang ya ini" tanya Margi Syarif membuka diskusi.
"ee SNA emosi kami kalau kita lihat sebenarnya percakapan itu terklasus besar hanya di satu kluster ini percakapan terkonsentrasi di ee tengah ini dan emosi dominannya adalah marah dan juga ee apa antisipasi ada emosi disgust Bang ini emosi disgust" jawab Rizal Nova Mujahid.
Ia memaparkan bahwa kemunculan emosi berupa rasa muak atau penolakan menjadi kendala serius bagi lingkaran pendukung mantan kepala negara.
"itu di paling atas itu problem betul untuk keluarga ee untuk pendukung Pak Jokowi sebenarnya pendukung Gibran apa sebab karena ada upaya untuk membandingkan Pak Gibran dengan Habibi hm dengan Hatta kayak gitu itu buat mereka waduh kejauhan Bro gitu kira-kira iya iya" jelas Rizal Nova Mujahid.
Pihaknya menambahkan bahwa besarnya luapan emosi publik muncul akibat adanya perasaan tidak dihargai dalam nalar berpikir atas rentetan persoalan yang bergulir.
"publik merasa ditipu merasa diremehkan intelektualas mereka marah dan merasa tertipu marah dan terasa tertipu rangkaian-rangkaian ee kejanggalan-kejanggalan yang kemudian baru terungkap beberapa hari inilah yang membuat emosi publik itu campur aduk dan lebih cenderung marah karena jauh sekali kan dari 2019 2024" ungkap Rizal Nova Mujahid.
Berdasarkan pemantauan indikator data digital, volume interaksi publik mencapai angka yang tinggi hanya dalam hitungan hari setelah putusan.
"kalau kita lihat 223 juta engagement hanya dalam satu pekan itu bukan angka yang sedikit itu sangat tinggi volumenya yang tinggi sekali hanya dalam jangka waktu e satu pekan orang masih menunggu kan masih mengantisipasi apa sih yang akan terjadi para Pak Gibran ini" urai Rizal Nova Mujahid.
Analisis Drone Emprit memperlihatkan bahwa ketegangan politik ini berdampak pada reputasi tokoh yang bersangkutan di mata publik.
"di mata netizen pasca putusan MK kemarin Mas Gibran dan keluarga Solo babak belur tidak semata babak belur di media sosial tetapi netizen juga melihat ini sebentar lagi babak belur di secara politik" papar Rizal Nova Mujahid.
Lebih lanjut, ia mengaitkan perombakan kabinet yang baru saja terjadi dengan dugaan keretakan hubungan antar elite kekuasaan.
"pasca CMK resavel besar-besaran itu orang membacanya sebagai semacam kertakan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo" tutur Rizal Nova Mujahid.
Kondisi tersebut mendorong munculnya desakan publik agar instansi terkait menyelidiki kekayaan mantan presiden.
"publik banyak sekali yang mendorong untuk KPK atau kejaksaan atau institusi penegak hukum lainnya agar menelisik harta atau akses yang dimiliki oleh Pak Jokowi selama dia menjabat" kata Rizal Nova Mujahid.
Berdasarkan catatan statistik data, perbincangan mengenai tuntutan penegakan hukum tersebut terus meningkat sejak awal 2025.
"oke itu trennya Bang makin meninggi loh sejak 2025 awal potensipotensi ee KKN-nya kayak gitu ini semakin meningkat e percakapan itu tentang itu" pungkas Rizal Nova Mujahid.
Editor: 91224 R-ID Elok