Berita, Nasional

Drone Emprit: Dinasti Solo Babak Belur Dituding Netizen

Repelita.net

19 October 2026 13:51 WIB • 109 view

Drone Emprit: Dinasti Solo Babak Belur Dituding Netizen
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Dinamika politik tanah air pasca putusan Mahkamah Konstitusi terkait keabsahan dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu ledakan reaksi kemarahan publik yang luar biasa masif di ruang digital.

ADVERTISEMENT

Analisis mendalam mengenai fenomena perbincangan ini diungkapkan secara gamblang dalam tayangan siniar yang diunggah oleh kanal YouTube Forum Keadilan TV.

Dalam program tersebut, Host Margi Syarif berbincang bersama narasumber Rizal Nova Mujahid yang merupakan Lead Analyst Drone Emprit.

Rizal Nova Mujahid membeberkan temuan data berupa adanya ratusan juta bentuk interaksi digital dari masyarakat yang mengekspresikan kekecewaan mendalam atas polemik hukum ini.

"apakah ada kemarahan publik pasca perusahaan MK ini mau diapain nih perusahaan MK kita lihat emosinya ya Bang ya ini" tanya Margi Syarif membuka diskusi.

"ee SNA emosi kami kalau kita lihat sebenarnya percakapan itu terklasus besar hanya di satu kluster ini percakapan terkonsentrasi di ee tengah ini dan emosi dominannya adalah marah dan juga ee apa antisipasi ada emosi disgust Bang ini emosi disgust" jawab Rizal Nova Mujahid.

Ia memaparkan bahwa kemunculan emosi berupa rasa muak atau penolakan tersebut menjadi kendala serius bagi lingkaran pendukung mantan kepala negara.

"itu di paling atas itu problem betul untuk keluarga ee untuk pendukung Pak Jokowi sebenarnya pendukung Gibran apa sebab karena ada upaya untuk membandingkan Pak Gibran dengan Habibi hm dengan Hatta kayak gitu itu buat mereka waduh kejauhan Bro gitu kira-kira iya iya" jelas Rizal Nova Mujahid.

Pihaknya menambahkan bahwa besarnya luapan emosi publik muncul akibat adanya rasa tidak dihargai dalam nalar berpikir atas rentetan persoalan yang bergulir.

"publik merasa ditipu merasa diremehkan intelektualas mereka marah dan merasa tertipu marah dan terasa tertipu rangkaian-rangkaian ee kejanggalan-kejanggalan yang kemudian baru terungkap beberapa hari inilah yang membuat emosi publik itu campur aduk dan lebih cenderung marah karena jauh sekali kan dari 2019 2024" ungkap Rizal Nova Mujahid.

Berdasarkan pemantauan indikator data digital, volume interaksi publik mencatatkan rekor yang luar biasa besar hanya dalam hitungan hari pasca putusan.

"kalau kita lihat 223 juta engagement hanya dalam satu pekan itu bukan angka yang sedikit itu sangat tinggi volumenya yang tinggi sekali hanya dalam jangka waktu e satu pekan orang masih menunggu kan masih mengantisipasi apa sih yang akan terjadi para Pak Gibran ini" urai Rizal Nova Mujahid.

Analisis Drone Emprit memperlihatkan bahwa dampak dari ketegangan politik ini berimbas sangat masif pada reputasi tokoh yang bersangkutan di mata publik internasional.

"di mata netizen pasca putusan MK kemarin Mas Gibran dan keluarga Solo babak belur tidak semata babak belur di media sosial tetapi netizen juga melihat ini sebentar lagi babak belur di secara politik" jabar Rizal Nova Mujahid.

Lebih lanjut, ia mengaitkan fenomena pembongkaran kabinet kerja yang baru saja terjadi sebagai salah satu indikator keretakan hubungan antar elite kekuasaan.

"pasca CMK resavel besar-besaran itu orang membacanya sebagai semacam kertakan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo" tutur Rizal Nova Mujahid.

Kondisi tersebut mendorong munculnya desakan hukum yang kuat dari publik agar instansi terkait segera melakukan investigasi kekayaan terhadap mantan presiden.

"publik banyak sekali yang mendorong untuk KPK atau kejaksaan atau institusi penegak hukum lainnya agar menelisik harta atau akses yang dimiliki oleh Pak Jokowi selama dia menjabat" kata Rizal Nova Mujahid.

Berdasarkan catatan statistik data, pergerakan tuntutan penegakan hukum ini terus merangkak naik semenjak pergantian tahun.

"oke itu trennya Bang makin meninggi loh sejak 2025 awal potensipotensi ee KKN-nya kayak gitu ini semakin meningkat e percakapan itu tentang itu" pungkas Rizal Nova Mujahid di akhir pemaparannya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung