Repelita Jakarta - Budayawan senior Mohammad Sobari melontarkan kritik pedas terkait peredaran buku yang mengaitkan narasi keagamaan secara spesifik dengan figur Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Pihaknya menilai bahwa pencantuman label keislaman terhadap kepala negara merupakan tindakan yang melampaui batas kewajaran serta tidak memiliki landasan faktual yang dapat dipertanggungjawabkan.
ADVERTISEMENT
Ulasan tajam mengenai polemik literatur kontroversial itu sebelumnya diunggah oleh akun @ForumKeadilanTV pada hari Kamis tanggal 10 bulan September tahun 2026.
Buku Islam ala Prabowo ini blunder atau bunuh diri bagi Prabowo dulu Prabowo diberitahu Pak kami akan menulis ini untuk kepentingan Bapak, ungkap Mohammad Sobari dalam diskusi publik yang disiarkan melalui platform digital tersebut.
Menurutnya, penilikan mendalam terhadap rekam jejak kehidupan maupun perjalanan karier sang pemimpin tidak menunjukkan adanya korelasi langsung dengan pemahaman atau atribut keagamaan tertentu.
Prabowo tidak bisa diberi tempat sedemikian tinggi menjadi sesuatu yang berkaitan dengan Islam melebihi batas dan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan sama sekali, tegasnya dalam kupasan tersebut.
Ia lantas menegaskan bahwa Prabowo tak ada hubungannya dengan Islam dalam konteks penciptaan citra ideologis sempit, mengingat realitas perjalanan hidup sang tokoh lebih melekat pada spektrum nasionalisme.
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa sejumlah tokoh intelektual terkemuka hingga pemuka agama yang namanya dicatut sebagai kontributor di dalam buku itu ternyata tidak pernah merasa dilibatkan.
Penulis-penulis ini bukan golongan intelektual saya tegas dalam soal ini karena mereka penulis-penulis itu saya tidak hafal, ujarnya menyoroti rendahnya validitas penyusunan karya tulis tersebut.
Sebagai jalan keluar, ia menyarankan agar narasi pencitraan politik tokoh nasional sebaiknya difokuskan pada ranah universal seperti nilai kemanusiaan atau spiritualitas kebangsaan yang jauh lebih inklusif.
Pendekatan kultural yang cair tanpa dibebani klaim keagamaan eksklusif dinilai lebih bijak guna merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa memicu polemik berkepanjangan di ruang publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok