Repelita Jakarta - Kereta api Argo Bromo Anggrek yang terlibat tabrakan maut dengan KRL di Bekasi Timur pada 27 April 2026 menyandang julukan sebagai "Raja Jalur Utara" karena kecepatan dan keistimewaannya yang tak dimiliki kereta lain di lintas Pantura.
Kereta premium milik PT Kereta Api Indonesia ini melayani rute Stasiun Gambir menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan jarak tempuh sekitar 720 kilometer dalam waktu 7 jam 45 menit hingga 8 jam perjalanan.
ADVERTISEMENT
Kecepatan maksimum yang dapat dicapai kereta ini mencapai 120 kilometer per jam, menjadikannya salah satu kereta tercepat untuk kelas konvensional di Indonesia.
Predikat "Raja Jalur Pantura" melekat erat pada kereta ini karena kecepatan dan keistimewaannya dalam hal ketepatan waktu yang terkenal di kalangan pengguna jasa kereta api.
Sejarah kelahiran KA Argo Bromo Anggrek tidak lepas dari gagasan besar pengembangan kereta cepat di Indonesia pada era Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie kala itu.
Program ambisius Jakarta-Surabaya 9 jam kemudian melahirkan KA Argo Bromo dengan kode JS950 yang diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 31 Juli 1995.
Dua tahun berselang tepatnya 24 September 1997, lahirlah pengembangan terbaru bernama Argo Bromo Anggrek dengan kode JS852 yang menargetkan waktu tempuh lebih singkat sekitar 8 jam perjalanan.
Salah satu faktor utama yang membuat kereta ini mampu melaju dengan kecepatan tinggi adalah teknologi pada sistem bogie atau rangka bawah kereta.
Awal pengoperasiannya, kereta ini menggunakan bogie K9 dengan kombinasi pegas karet konikal sebagai suspensi primer dan pegas udara sebagai suspensi sekunder.
Kini rangkaian KA Argo Bromo Anggrek telah menggunakan bogie tipe K10 yang mengandalkan sistem suspensi udara dengan penyempurnaan pada aspek stabilitas dan kenyamanan.
Teknologi bogie K10 ini memungkinkan kereta melaju hingga 120 kilometer per jam secara lebih stabil sekaligus meminimalkan guncangan selama perjalanan jarak jauh.
Dari sisi penggerak, lokomotif CC 206 buatan General Electric Transportation menjadi otot di balik kecepatan tinggi kereta flagship tersebut.
Lokomotif CC 206 memiliki daya mesin sekitar 2.250 tenaga kuda yang mampu menarik rangkaian berat Stainless Steel New Generation dengan stabil.
Lokomotif ini juga dilengkapi dengan teknologi kontrol berbasis mikroprosesor untuk mengoptimalkan traksi dan memantau kesehatan mesin secara waktu nyata.
Desain Double Cab atau kabin ganda di kedua ujungnya menjadi ciri khas lokomotif CC 206 yang membedakannya dari seri lokomotif lainnya.
Desain ini memungkinkan masinis memiliki pandangan yang luas tanpa perlu memutar posisi lokomotif di stasiun akhir sehingga meningkatkan efisiensi waktu operasional.
Sistem pengereman udara tekan yang sangat kuat dimiliki lokomotif ini, namun dalam kecepatan tinggi tetap membutuhkan jarak pengereman yang panjang.
Fasilitas premium yang ditawarkan KA Argo Bromo Anggrek meliputi kelas eksekutif dengan kursi ergonomis yang bisa direbahkan dan diputar.
Pada kelas yang lebih tinggi seperti luxury dan compartment suite, penumpang bisa menikmati kursi yang dapat direbahkan hingga menyerupai tempat tidur.
Kereta ini juga dilengkapi dengan fasilitas hiburan, pendingin udara, hingga layanan makanan di kereta makan selama perjalanan panjang.
Meskipun menyandang predikat mewah dan cepat, perjalanan KA Argo Bromo Anggrek juga diwarnai sejumlah insiden serius sepanjang sejarah operasionalnya.
Tragedi maut Petarukan pada 2 Oktober 2010 menjadi salah satu kecelakaan paling mematikan dengan korban 36 orang tewas di Pemalang.
Tabrakan dengan bus di Brebes pada 25 Desember 2001 juga menewaskan belasan orang di perlintasan sebidang yang menjadi catatan kelam.
Insiden anjlok di Pegaden Baru, Subang, pada 1 Agustus 2025 terjadi meskipun kereta telah menggunakan rangkaian stainless steel generasi terbaru.
Tabrakan Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi insiden terbaru yang kembali mencoreng reputasi "Raja Jalur Utara" tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok