Berita, Nasional

Diajak Diskusi Kok Malah Ngajak Berantem Debat Abis Adu Data Ichsanuddin Noorsy

Repelita.net

15 October 2026 20:07 WIB • 57 view

Diajak Diskusi Kok Malah Ngajak Berantem Debat Abis Adu Data Ichsanuddin Noorsy
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Perdebatan sengit mengenai arah kebijakan tata kelola perekonomian makro nasional serta tingkat independensi kebijakan moneter dikupas tuntas dalam sebuah podcast politik.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan tayangan diskusi kritis yang disiarkan oleh kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Kamis, 15 Oktober 2026, pembawa acara Akbar Faizal mengundang pakar untuk menguji validitas realisasi draf target pembangunan negara.

Narasumber diskusi Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy memaparkan analisis tajamnya yang secara konsisten membongkar 15 poin krusial yang dinilai sebagai bentuk kegagalan struktural sistemik.

Ichsanuddin Noorsy menjabarkan draf pidato nota keuangan tahunan di hadapan parlemen yang mencantumkan janji optimis pertumbuhan ekonomi pada kisaran angka 5 hingga 5,5 persen.

Namun, ulasan Ichsanuddin Noorsy membuktikan bahwa fundamental makroekonomi tanah air sejatinya berstatus sangat rapuh lantaran besarnya beban pembayaran utang luar negeri.

Berdasarkan kalkulasi data keuangan per semester, total utang pemerintah per Mei 2021 yang melonjak menembus angka Rp6.418 triliun terbukti dikuasai oleh portofolio dolar sebesar 66 persen.

Ichsanuddin Noorsy mempertanyakan ketahanan kas negara mengingat pembayaran bunga utang luar negeri saja sudah menguras anggaran hingga Rp60 triliun sampai Rp70 triliun per tahun.

Kondisi tersebut dinilai memaksa pemerintah menerapkan skema gali lubang kubangan guna menutup jurang defisit APBN sehingga alokasi stimulus pemulihan ekonomi tidak berjalan adil dan merata.

Tensi diskusi ketatanegaraan ini berjalan sangat ketat sewaktu kedua tokoh publik tersebut saling beradu argumentasi tajam hingga memicu atmosfer perdebatan yang meledak-ledak di dalam studio.

Pihak narasumber berkeras mempertahankan keandalan seluruh data pembanding miliknya, sementara pembawa acara terus melayangkan cecaran pertanyaan tajam untuk menguji konsistensi draf pemikiran kritis sang ekonom.

Lebih lanjut, Ichsanuddin Noorsy mengkritik keras draf regulasi model pengelolaan bisnis negara yang justru lebih condong menerapkan sistem pemikiran corak demokrasi korporasi.

Langkah pengisian struktur kabinet yang marak didominasi oleh kalangan pebisnis dituding memicu timbulnya konflik kepentingan yang melenceng jauh dari pemenuhan hak hajat hidup orang banyak.

Ulasan kritis di dalam forum menyimpulkan bahwa kegagalan penegakan hukum dalam melindungi iklim investasi domestik telah membuat sejumlah korporasi sekuritas asing memilih angkat kaki secara massal.

Ichsanuddin Noorsy mendesak pemerintah untuk segera menghentikan lip service hilirisasi dan kembali taat bernegara pada mandat murni ekonomi konstitusi yang tertuang di dalam Pasal 33 UUD 1945.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok








TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung