Berita, Timur Tengah

Detik-Detik Jemaah Umrah Berlarian saat Rudal Houthi Hantam Bandara Riyadh

Repelita.net

12 October 2026 13:51 WIB • 196 view

Detik-Detik Jemaah Umrah Berlarian saat Rudal Houthi Hantam Bandara Riyadh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta – Kelompok Houthi asal Yaman melancarkan serangan menggunakan persenjataan berat yang dilaporkan menghantam terminal kedatangan dan keberangkatan penumpang di Bandara Internasional King Khalid.

Insiden tersebut memicu kepanikan di antara para jemaah umrah yang tengah bersiap melakukan penerbangan pulang.

ADVERTISEMENT

Serangan berskala besar ini diberitakan melalui tayangan berita terkini di kanal YouTube OfficialSINDOnews pada 11 Oktober 2026.

Menurut laporan pembaca berita Pram Senjaya di kanal tersebut, serangan rudal itu mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan sekitar 300 warga sipil terluka.

Para korban dilaporkan berasal dari sejumlah negara, termasuk Bangladesh, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan India.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas peluncuran dua rudal balistik tersebut. Mereka menyebut serangan itu sebagai aksi balasan terhadap serangan udara Arab Saudi di Yaman.

Hantaman rudal memicu kebakaran besar dan kepulan asap tebal setelah sebuah pesawat komersial dilaporkan mengalami kerusakan parah di area bandara.

Pihak penyerang mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah objek vital di Riyadh sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu hari.

Dampak ledakan tersebut memaksa pembatalan dan pengalihan ratusan jadwal penerbangan sipil dari dan menuju ibu kota Arab Saudi itu.

Otoritas setempat juga mengalihkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah di Riyadh ke sistem pembelajaran jarak jauh.

Menanggapi situasi darurat tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh mengeluarkan imbauan kepada warga negara Indonesia (WNI) agar meningkatkan kewaspadaan.

Melalui pengumuman resmi di media sosial, KBRI Riyadh meminta seluruh WNI menjauhi kawasan rawan konflik dan membatasi perjalanan ke sekitar bandara.

WNI juga diimbau untuk tetap berada di tempat yang aman serta mematuhi arahan dari otoritas keamanan setempat.

Konflik bersenjata di Timur Tengah tersebut turut menjadi perhatian dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Jeff Bartos, mendesak kelompok Houthi agar segera menghentikan serangan.

Jeff Bartos menyampaikan keprihatinan mendalam atas kerusakan fasilitas publik dan infrastruktur penerbangan sipil di Riyadh.

Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB, ia menyatakan:

“Pola tindakan mereka sudah sangat jelas. Houthi bertindak sebagai alat Teheran untuk mengancam kebebasan navigasi, merusak stabilitas kawasan, dan meneror warga sipil yang tidak bersalah. Kami menuntut Houthi menghentikan serangan terhadap pemerintah Yaman dan Arab Saudi yang sah. Kami juga menuntut Iran menghentikan seluruh dukungannya kepada Houthi.”

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan kesiapannya untuk mendukung upaya menjaga kedaulatan Arab Saudi dan pemerintah Yaman.

Pada perkembangan lain, militer Amerika Serikat dilaporkan mencegat sebuah kapal kargo komersial di kawasan Teluk Oman.

Operasi tersebut berlangsung di tengah penerapan blokade maritim yang ketat terhadap Iran.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengidentifikasi kapal yang menjadi sasaran sebagai MV Ocean Molica, kapal berbendera Panama.

CENTCOM menyebut kapal kargo tersebut sebelumnya berangkat dari pelabuhan Iran dan mengabaikan perintah untuk berhenti meskipun telah menerima sejumlah peringatan.

Insiden itu disebut sebagai kasus pelumpuhan kapal komersial keempat sejak blokade maritim diperketat pada 14 Juli.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Iran kini telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz.

Dalam sebuah siaran berita, Marco Rubio mengatakan:

“Bahkan media di Amerika Serikat mulai memberitakan betapa buruknya situasi yang dihadapi Iran. Selat Hormuz terbuka. Hampir sebanyak sebelum konflik dimulai, minyak kini mengalir keluar melalui jalur tersebut. Artinya, Iran telah kehilangan kendali penuh atas selat itu. Perekonomiannya bukan hanya sedang mengalami kemerosotan tajam, tetapi juga berpotensi mencapai kondisi yang sangat buruk, setara dengan situasi yang pernah dialami oleh sangat sedikit negara di dunia. Semua ini merupakan akibat dari tindakan mereka sendiri, sepenuhnya akibat tindakan kelompok radikal tersebut.”(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung