Berita, Nasional

Deddy Sitorus Sindir Jokowi Soal Wejangan Kekuasaan Minta Mantan Presiden Introspeksi Diri

Repelita.net

30 August 2026 21:19 WIB • 419 view

Deddy Sitorus Sindir Jokowi Soal Wejangan Kekuasaan Minta Mantan Presiden Introspeksi Diri
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sindiran tajam dilayangkan oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Yevri Sitorus menanggapi penyampaian wejangan seputar penggunaan kekuasaan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Politis partai berlogo banteng tersebut menyarankan Jokowi untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam sebelum memberikan nasehat kepemimpinan di hadapan publik.

ADVERTISEMENT

Kritikan keras itu tercetus pasca-kehadiran Jokowi yang membagikan falsafah Jawa saat acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Haul ke-8 KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, pada Sabtu 29 Agustus 2026.

Deddy menilai rangkaian nasihat yang dilontarkan mantan kepala negara tersebut amat bertolak belakang dengan jejak langkah dan manuver politik yang dipertunjukkannya selama ini.

"Ada yang bisa ngasih kaca ke bapak ini nggak ya? Sepertinya di rumah dia tidak ada kaca. Atau dia sedang menasehati dirinya sendiri kah?” ujar Deddy dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Deddy turut menyoroti kebiasaan Jokowi yang masih aktif berinteraksi di jejaring media sosial hingga berpotensi memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Ia berpandangan bahwa sosok mantan pejabat tinggi negara idealnya membatasi diri dari ingar-bingar dinamika politik praktis yang dapat menimbulkan polemik baru.

"Udah benar kalau jadi mantan itu baiknya kembali masuk gorong-gorong. Ehh, malah main medsos dan menyebar hoaks!!! Orang kalau candu kekuasaan itu memang susah dinasehati!!” kata Deddy.

Sorotan publik ini bermula saat Jokowi memaparkan tiga ajaran budi pekerti Jawa mengenai etika seorang pemimpin ketika tengah memegang tampuk kepemimpinan.

Ketiga ajaran leluhur yang disampaikan tersebut mencakup falsafah “Lamun siro sekti, ojo mateni”, “Lamun siro pinter, ojo minteri”, serta “Lamun siro banter, ojo disiki”.

Jokowi secara khusus memberikan penekanan pada prinsip pertama, di mana seseorang yang diberi kewenangan tidak sepatutnya memanfaatkan kekuatannya untuk menyingkirkan pihak lain.

"Jangan kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik," ujar Jokowi.

Tokoh dari Solo itu juga mengingatkan seluruh pihak bahwa legasi kedudukan maupun jabatan struktur pemerintahan tidak ada yang bertahan secara abadi.

Ia berpesan agar siapapun pemegang kendali kekuasaan senantiasa menyadari keterbatasan masa jabatan yang diemban.

"Karena kekuasaan itu hanya sementara. Jabatan itu hanya sampingan. Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan," katanya.

Respons menohok dari jajaran DPP PDIP ini makin mempertegas renggangnya jalinan komunikasi politik antara pihak partai dengan mantan kadernya tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung