Berita, Nasional

Dahlan Iskan Soroti Yossi Cohen: Intel Bisa Salah, Keyakinan Gempur Iran Ternyata Meleset, Rezim Tak Runtuh Justru Kokoh

Repelita.net

17 April 2026 16:10 WIB • 896 view

Dahlan Iskan Soroti Yossi Cohen: Intel Bisa Salah, Keyakinan Gempur Iran Ternyata Meleset, Rezim Tak Runtuh Justru Kokoh
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dahlan Iskan dalam tulisannya mengungkapkan bahwa intelijen ternyata bisa melakukan kesalahan, termasuk yang dilakukan oleh mantan kepala Mossad, Yossi Cohen, yang kini menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut Dahlan Iskan, kesalahan perhitungan Yossi Cohen dalam menganalisis situasi Iran telah mengakibatkan ribuan korban jiwa yang tidak bersalah, termasuk 180 murid perempuan yang masih sangat muda beserta para guru mereka.

ADVERTISEMENT

Dahlan Iskan menulis bahwa Yossi Cohen memiliki keyakinan kuat bahwa serangan frontal ke Teheran akan mampu menggulingkan rezim dan memicu perubahan pemerintahan di Iran, sebuah keyakinan yang kemudian diikuti oleh Netanyahu.

Amerika Serikat dan Israel pun melancarkan serangan besar-besaran pada 28 Februari 2026 dengan menjatuhkan ratusan bom serta rudal jarak jauh di ibu kota Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut bersama dengan anggota keluarganya termasuk anak, istri, menantu, dan cucu-cucunya.

Anak keduanya, Mojtaba Khamenei, mengalami cedera berat namun justru kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahandanya.

Dahlan Iskan menyoroti bahwa keyakinan Yossi Cohen ternyata meleset karena rezim di Iran tidak runtuh melainkan justru semakin kokoh setelah serangan tersebut.

Sejumlah aktivis anti-rezim Iran yang sebelumnya mengasingkan diri ke Eropa justru memutuskan untuk pulang kampung demi membela negara tanpa memedulikan siapa penguasa yang memimpin.

Serangan Israel dan Amerika Serikat pun terus berlanjut dan banyak tokoh Iran yang tewas, termasuk mereka yang sebenarnya bersikap sangat moderat.

Setelah pertempuran berlangsung selama 40 hari, rezim Iran tidak juga goyah dan negara tersebut justru mampu melancarkan serangan balasan yang efektif.

Dahlan Iskan mengamati bahwa Yossi Cohen dikenal sebagai sosok yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Netanyahu sehingga pendapatnya selalu didengar dengan saksama oleh perdana menteri.

Di Amerika Serikat, posisi serupa dipegang oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang mendorong Presiden Trump untuk menyerang Iran.

Prestasi terbesar Yossi Cohen terjadi saat ia masih menjabat sebagai pimpinan Mossad, ketika lembaga intelijen Israel berhasil mencuri seluruh dokumen rahasia program nuklir Iran pada tahun 2018.

Operasi intelijen yang sangat mulus itu tidak meninggalkan jejak sama sekali, tanpa satu pun kunci pintu yang rusak atau lemari arsip yang tampak dibuka paksa.

Bahkan pihak Iran tidak dapat menentukan siapa di antara pegawai internal proyek tersebut yang harus dihukum atas kebocoran dokumen tersebut.

Keberhasilan operasi ini kemudian menjadikannya sebagai studi kasus yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan intelijen di berbagai negara di seluruh dunia.

Yossi Cohen terus memimpin Mossad hingga tahun 2021 sebelum akhirnya pensiun di usianya yang ke-60 tahun dan beralih menjadi penasihat pertahanan bagi Netanyahu.

Israel kemudian berbagi hasil curian dokumen nuklir Iran tersebut dengan Amerika Serikat untuk kepentingan operasional bersama.

Para ilmuwan nuklir Iran pun tewas satu per satu karena Israel mengetahui persis siapa saja target yang harus dilumpuhkan demi menghambat program nuklir.

Tokoh ilmuwan nuklir utama Iran, Mohsen Fakhrizadeh, tewas dua tahun setelah pencurian dokumen tersebut pada 27 November 2020.

Mohsen yang merupakan otak di balik program nuklir Iran tewas dalam perjalanan menuju Absard bersama istrinya, Sediqeh Qasemi.

Saat mobil yang dikawal oleh pikap tersebut melintas di pinggiran timur Teheran, senjata otomatis yang dipasang di mobil pikap pengawal menyalak dan mengenai Mohsen secara akurat.

Senjata tersebut dilengkapi dengan kamera pengenal wajah dan peralatan komunikasi canggih yang memungkinkan pemantauan dari Israel.

Istrinya hanya mengalami luka ringan dalam insiden penembakan yang sangat presisi tersebut, sementara Mohsen dinyatakan tewas di tempat.

Setelah misi selesai, mobil pikap pengawal meledak karena diledakkan dari jarak jauh sehingga barang bukti di lokasi kejadian menjadi sangat minim.

Mohsen yang lahir di Qom pada tahun 1961 dan meraih gelar doktor dari Isfahan University of Technology juga mengajar fisika di Husein University.

Sebelum kejadian tersebut, para pengawal sebenarnya sudah mengingatkan Mohsen untuk tidak melakukan perjalanan karena ancaman pembunuhan semakin nyata.

Namun Mohsen tetap bersikeras pergi ke Absard karena ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam dari Teheran.

Ia juga sudah diingatkan tentang tewasnya Jenderal Sulaimani sepuluh bulan sebelumnya dalam perjalanan dari Baghdad ke bandara, namun peringatan tersebut diabaikan.

Mohsen yang saat itu mengendarai sedan hitam Nissan Teana sudah tidak lagi peka terhadap berbagai ancaman karena terlalu sering menerima peringatan serupa di masa lalu.

Dahlan Iskan mencatat bahwa Mossad memiliki karakteristik yang berbeda dengan CIA, di mana Mossad tidak pernah mensponsori penggulingan pemerintah di negara lain sepanjang sejarahnya.

Satu-satunya pengecualian adalah ketika Mossad membantu Inggris dan Amerika menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh yang sangat didukung rakyat.

Kini, alih-alih melakukan kudeta, Israel memilih jalur serangan udara yang ternyata hasilnya dinilai gagal total karena kajian intelijen Yossi Cohen meleset.

Mossad kemungkinan besar akan melemparkan tanggung jawab kegagalan ini kepada Yossi Cohen karena ia adalah pensiunan Mossad, bukan lagi bagian dari lembaga tersebut .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung