Berita, Nasional

Connie Bakrie Kritik Aliran Informasi Istana dan Beban Anggaran Jumbo Makan Bergizi Gratis

Repelita.net

17 September 2026 20:02 WIB • 105 view

Connie Bakrie Kritik Aliran Informasi Istana dan Beban Anggaran Jumbo Makan Bergizi Gratis
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat militer dan geopolitik, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, menyoroti dinamika arus informasi yang masuk ke lingkungan Istana Negara di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan kritis tersebut disampaikan langsung oleh dirinya saat hadir menjadi narasumber dalam sebuah diskusi mendalam yang ditayangkan pada Kamis, 17 September 2026.

ADVERTISEMENT

Melalui tayangan di kanal YouTube Pusaka Negeri, Connie Rahakundini Bakrie membedah berbagai persoalan strategis nasional bersama mitranya, Hendri Satrio.

Ia mengungkapkan kekhawatiran mengenai adanya potensi hambatan terhadap masukan-masukan objektif yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh kepala negara.

Menurut pandangannya, Presiden Prabowo Subianto dikelilingi oleh banyak figur yang memiliki kecerdasan serta kemampuan mumpuni untuk membantu pemerintahan.

Ia kemudian menyebutkan beberapa nama tokoh potensial seperti Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai contoh figur pintar di lingkaran tersebut.

Namun, Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan agar orang-orang berkompeten ini diberikan ruang penuh untuk menyampaikan analisis mereka tanpa adanya sekat.

Dirinya secara spesifik mengimbau agar para pemikir hebat tersebut tidak tertahan di depan pintu oleh ajudan presiden, Mayor Teddy Indra Wijaya.

Penilaian tersebut didasari atas kekhawatiran bahwa penyaringan informasi yang terlalu ketat dapat membuat laporan yang sampai ke presiden menjadi kurang akurat.

Ia memberikan analogi sederhana bahwa jika ada pihak luar yang menilai suatu hitungan matematika menghasilkan angka enam belas, maka hal itu harus didengarkan.

Pemimpin dinilai tidak boleh bersikap ngotot mempertahankan angka tujuh belas jika kebenaran faktual yang ada di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda.

Jika para pembantu presiden justru menyembunyikan realitas karena takut memicu kemarahan atau mengganggu kesehatan kepala negara, maka hal tersebut dipandang berbahaya.

Connie Rahakundini Bakrie mengkhawatirkan situasi ini dapat membuat presiden terisolasi dan bertindak layaknya visualisasi metafora dongeng klasik tentang raja tanpa busana.

Raja dalam kisah tersebut merasa mengenakan pakaian megah karena bisikan para penjilat, padahal kenyataannya ia berjalan telanjang akibat tidak adanya kritik jujur.

Kondisi tersebut dinilai bisa terjadi jika pemimpin negara hanya menerima laporan yang menyenangkan telinga dari lingkaran terdekat yang dianggap sebagai sumber utama.

Selain masalah komunikasi internal istana, diskusi di kanal YouTube Pusaka Negeri itu juga menyoroti kebijakan alokasi anggaran belanja negara di era pemerintahan baru.

Profesor yang kini aktif mengajar di Rusia tersebut memberikan catatan kritis terhadap besarnya pendanaan untuk program Badan Makan Bergizi Gratis.

Program pemenuhan nutrisi anak sekolah itu disoroti karena menyedot dana yang sangat masif, bahkan melampaui anggaran kementerian-kementerian vital.

Ia memaparkan anggaran badan tersebut lebih besar daripada Kementerian Pertahanan, Kementerian Agama, serta Kementerian Pendidikan.

Meskipun menyatakan dukungannya terhadap pemenuhan gizi anak, ia menyarankan agar implementasi program tersebut tidak dipaksakan berjalan serentak di seluruh wilayah.

Connie Rahakundini Bakrie menilai alangkah lebih bijak jika dana jumbo itu difokuskan terlebih dahulu sebagai proyek percontohan di daerah dengan tingkat stunting tinggi.

Langkah bertahap dinilai jauh lebih aman bagi kesehatan fiskal negara dibandingkan langsung menggelontorkan anggaran hingga satu triliun rupiah per hari.

Lebih lanjut, ia berharap agar Presiden Prabowo Subianto tidak menghabiskan energinya hanya untuk mengatasi imbas masalah dari sisa pemerintahan terdahulu.

Berbagai persoalan pelik seperti proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara yang dinilai belum tuntas sepenuhnya merupakan beban nyata dari era sebelumnya.

Ia menyatakan bahwa efek dari kebijakan masa lalu yang ditinggalkan oleh mantan pemimpin dari Solo tersebut tetap harus dihadapi secara berani dan transparan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung