Berita, Nasional

Chatib Basri Soroti MBG Picu Tekanan Rupiah dan Anggaran Negara

Repelita.net

10 June 2026 15:42 WIB • 909 view

Chatib Basri Soroti MBG Picu Tekanan Rupiah dan Anggaran Negara
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Chatib Basri, memberikan catatan kritis terkait Program Makan Bergizi Gratis yang dinilai turut membebani fluktuasi nilai tukar rupiah.

Pernyataan tersebut disampaikan Chatib usai mengikuti rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026).

ADVERTISEMENT

Pelemahan nilai tukar mata uang nasional dianggap sebagai masalah serius yang berpotensi memicu lonjakan biaya impor dan berdampak pada kenaikan harga barang di tingkat masyarakat.

Yang dibahas adalah berbagai risiko ekonomi yang mungkin muncul, termasuk dampak pelemahan rupiah terhadap harga-harga.

Ini tentu perlu menjadi perhatian karena bisa berdampak pada masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Pemerintah saat ini tengah memprioritaskan kebijakan efisiensi anggaran guna menjaga ketahanan fiskal di tengah tantangan ekonomi yang cukup menantang.

Chatib menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sejumlah program strategis pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis agar penyalurannya lebih tepat sasaran.

Karena itu, salah satu yang akan dilakukan pemerintah adalah efisiensi anggaran.

Pemerintah ingin memastikan setiap pengeluaran benar-benar efektif dan memberikan manfaat yang optimal.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, menegaskan bahwa pihaknya telah memulai langkah efisiensi agar tidak menambah beban keuangan negara.

Langkah kami adalah, pertama seperti yang beberapa waktu lalu kami sampaikan.

Kami konsen pada efisiensi anggaran agar tidak membebani anggaran saat ini.

Tapi tidak mengubah target yang kita berikan.

Salah satu kebijakan nyata yang diambil adalah pemberlakuan moratorium pembangunan unit dapur baru, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.

Efisiensi ini kami lakukan, pertama melalui moratorium.

Per hari ini, jumlah titik operasional 27.877, kita hentikan dulu di situ.

Kita tata, apakah dapur ini sudah bisa melayani penerima manfaat yang ada atau sebetulnya kelebihan.

Artinya, kita tidak buka yang baru dulu.

Kita mau menata. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung