Berita, Nasional

Chatib Basri Sebut Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Sarankan Pemerintah Rasionalisasi Belanja Negara Demi Atasi Tekanan Fiskal

Repelita.net

09 June 2026 21:52 WIB • 1,956 view

Chatib Basri Sebut Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Sarankan Pemerintah Rasionalisasi Belanja Negara Demi Atasi Tekanan Fiskal
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai kondisi perekonomian dalam negeri saat ini masih berada pada tingkat yang stabil, meskipun terdapat pandangan pesimistis dari sebagian masyarakat.

"Situasi di domestik itu tidak seburuk yang dibayangkan. Mungkin banyak yang tidak setuju sama saya," ujarnya saat menghadiri acara Grab Business Forum di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan bahwa daya beli rumah tangga pada kuartal pertama tahun 2026 tetap terjaga berkat dorongan momentum perayaan Ramadan dan Idulfitri.

Selain itu, kontribusi belanja negara juga berperan signifikan dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional di awal tahun.

"Karena di first quarter itu, pemerintah itu melakukan spending-nya sekitar 20-22%, sehingga kemudian mendorong growth-nya jadi naik secara signifikan," tutur Chatib.

Namun, ia mengingatkan bahwa laju konsumsi pemerintah tersebut kemungkinan tidak akan bertahan jika tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan pajak.

Dirinya mengibaratkan kondisi fiskal saat ini serupa dengan pengelolaan perusahaan yang harus menyesuaikan belanja modal dengan perolehan pendapatan.

"Kalau growth-nya slowdown, bisa tidak kemudian capex-nya ditambah? Kemungkinan tidak. Sehingga mungkin di kuartal 2, 3, dan 4, pertumbuhan dari government spending-nya nggak mungkin di 22%," ucapnya.

Dalam menyikapi tekanan fiskal, Chatib menyebutkan bahwa pemerintah memiliki opsi terbatas antara meningkatkan penerimaan, memangkas pengeluaran, atau menambah utang.

Mengingat kondisi pasar yang kurang mendukung untuk penambahan utang, ia menyarankan agar pemerintah melakukan rasionalisasi belanja secara selektif.

"Maka opsi yang paling mungkin itu adalah cut the spending selectively. Fiskal itu tentunya harus dirasionalisasi untuk mengatasi persoalan itu," ungkap dia.

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, ia menepis anggapan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi satu-satunya penyebab utama.

Ia menilai faktor persepsi risiko investasi yang tecermin pada kenaikan credit default swap sudah terjadi jauh sebelum ketegangan perang pecah.

"Sebanyak 23% variasi perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa dijelaskan oleh CDS. Yang menarik, CDS mulai memburuk sebelum perang. Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, itu tidak benar," pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung