Berita, Nasional

CEO Astronacci Peringatkan Indonesia di Ambang Krisis Ekonomi, Rupiah Tembus Rp17.000 dan Pinjol Meningkat Drastis

Repelita.net

15 April 2026 23:01 WIB • 938 view

CEO Astronacci Peringatkan Indonesia di Ambang Krisis Ekonomi, Rupiah Tembus Rp17.000 dan Pinjol Meningkat Drastis
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, menyebut situasi ekonomi saat ini bukan sekadar perlambatan biasa melainkan fase kritis yang berpotensi menyeret Indonesia ke dalam krisis besar jika tidak segera ditangani.

Dalam tayangan di kanal YouTube Astronacci, Gema menggambarkan tekanan ekonomi datang dari dua arah sekaligus yaitu dari dalam negeri yang rapuh dan gejolak global yang semakin tak menentu.

ADVERTISEMENT

Ia menilai pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal awal tekanan serius yang diperparah dengan meningkatnya utang pinjaman online.

"Kalau pinjol terus naik, berarti masyarakat sudah tidak punya uang," ujar Gema menyoroti fenomena meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman online sebagai indikator nyata pendapatan tak lagi mampu menutup kebutuhan hidup.

Harga kebutuhan pokok melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir sementara kenaikan upah tidak mampu mengimbanginya, sehingga banyak masyarakat bekerja lebih keras namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Data yang dipaparkannya menunjukkan kelas menengah Indonesia terus menyusut dan tabungan masyarakat kelas bawah sangat drastis sejak pandemi, dengan jutaan orang turun kelas secara ekonomi hanya dalam waktu singkat.

Konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong naiknya harga minyak dunia yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya produksi, mulai dari sektor transportasi hingga pangan.

Gema memperingatkan adanya enam dimensi kematian perekonomian mulai dari inflasi global, penguatan dolar AS, lambatnya perdagangan dunia, hingga menurunnya kepercayaan pasar.

Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai belum cukup efektif dalam menanggapi situasi, karena tanpa langkah strategis tekanan ini bisa berkembang menjadi krisis ekonomi yang lebih luas.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor turut menjadi sorotan karena kenaikan nilai tukar dolar otomatis mendorong harga barang impor yang pada akhirnya dibebankan ke konsumen.

"Ini bukan situasi normal. Semua harus bersiap. Kalau tidak, dampaknya bisa sangat besar dalam satu sampai dua tahun ke depan," kata Gema mengingatkan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung