Berita, Nasional

Bukan Indonesia Yang Bebaskan Aktivis Flotilla Dari Sanderaan Israel Melainkan Tekanan Dunia Internasional

Repelita.net

23 May 2026 19:20 WIB • 1,471 view

Bukan Indonesia Yang Bebaskan Aktivis Flotilla Dari Sanderaan Israel Melainkan Tekanan Dunia Internasional
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Peredaran rekaman video amatir yang menampilkan sosok Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir saat mengolok-olok para pejuang kemanusiaan di dalam fasilitas tahanan terapung memicu gelombang kecaman hebat serta desakan internasional untuk membebaskan jaringan aktivis Global Sumud Flotilla.

Ketika memantau langsung para relawan di atas geladak kapal penjara yang tengah bersandar di dermaga Ashdod, sang pejabat tinggi justru mendokumentasikan aksi intimidasi di mana para tawanan dipaksa bersujud dan sejumlah pria ditelanjangi bagian dada.

ADVERTISEMENT

Dalam potongan klip lainnya terlihat seorang relawan yang terikat borgol meneriakkan yel-yel kebebasan sebelum akhirnya disiksa secara fisik oleh barisan petugas pengamanan dengan cara dijambak rambutnya hingga tersungkur ke lantai.

Kondisi memprihatinkan tersebut diperparah oleh laporan adanya tindakan kekerasan fisik berupa penyetruman listrik terhadap kaum pria serta pemaksaan pelepasan jilbab bagi para sukarelawan wanita.

Analis geostrategi, diplomasi, dan politik luar negeri RI, PLE Priatna, menilai paparan visual kekejaman militer tersebut seketika memicu pergolakan politik internal di lingkar kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akibat tamparan opini publik global yang sangat masif.

Menurut pandangan PLE Priatna, sangat keliru jika menganggap Indonesia berperan dalam pembebasan tersebut, mengingat desakan itu murni lahir dari kecaman global dan ketakutan rezim zionis akan kehancuran citra politik mereka di dunia internasional.

PLE Priatna juga menyayangkan di tengah situasi darurat kemanusiaan ini, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono justru mengeluarkan pernyataan diplomasi yang terlalu longgar dan seakan memberikan pembenaran atas aksi pembajakan kapal di wilayah perairan bebas internasional tersebut.

Sikap melunak dari perwakilan Jakarta tersebut dinilai oleh PLE Priatna sangat berisiko mereduksi esensi pelanggaran hukum laut internasional mengingat armada kemanusiaan itu dicegat secara paksa sejauh 250 mil dari lepas pantai Siprus.

Langkah diplomasi Indonesia ini berada di kutub yang berseberangan dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang secara tegas mengutuk operasi militer zionis tersebut sebagai bentuk aksi perompakan gaya baru di era modern.

Melihat blunder fatal tersebut, PLE Priatna menyoroti langkah Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani yang langsung mengambil inisiatif mendesak Uni Eropa untuk segera menjatuhkan sanksi ekonomi dan politik berat kepada Itamar Ben Gvir.

Akibat kepanikan menghadapi kehancuran reputasi diplomatik yang kian merosot tajam, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akhirnya mengambil keputusan darurat untuk segera membebaskan dan mendeportasi seluruh relawan kapal flotila.

Langkah cuci tangan juga diperlihatkan oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar yang secara terbuka menuding Ben Gvir telah merusak citra negara di tengah memanasnya suhu politik menjelang pemilu baru pada bulan Oktober 2026.

Meskipun Netanyahu melayangkan kecaman terhadap gaya provokasi Ben Gvir, PLE Priatna mengingatkan bahwa kedua tokoh ekstremis kanan tersebut pada dasarnya memiliki rekam jejak kejahatan kemanusiaan yang sama termasuk dalam tragedi berdarah Mavi Marmara tahun 2010 silam.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung