Repelita Jakarta - Sebuah pengakuan mengenai isi pembicaraan tertutup bersama Presiden Prabowo Subianto mendadak viral setelah diungkap ke publik.
Melalui unggahan di kanal YouTube Esensi Politika pada tanggal 30 Januari, tokoh politik Syahganda Nainggolan membeberkan dialog mendalam tersebut.
ADVERTISEMENT
Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah peristiwa kelam masa lalu yang menjadi catatan sejarah berat bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Syahganda Nainggolan menceritakan momen ketika dirinya berada di dalam satu ruangan bersama sang Kepala Negara serta sejumlah tokoh penting lainnya.
Pertemuan strategis tersebut turut dihadiri oleh mantan Ketua KPK Abraham Samad, mantan Kabareskrim Susno Duadji, hingga pakar riset Profesor Siti Zuhro.
Suasana pertemuan dikabarkan sempat memanas sewaktu jajaran tokoh politik membahas mengenai dinamika hubungan antartokoh nasional selepas perhelatan pemilu.
Di dalam forum resmi tersebut, Presiden Prabowo Subianto secara terbuka sempat mempertanyakan alasan di balik sikap kritis yang ditunjukkan oleh Amien Rais.
Pihak Kepala Negara pun mengakui bahwa dirinya mengetahui secara persis adanya beban sejarah yang cukup kelam pada perhelatan pesta demokrasi lalu.
Presiden secara gamblang memberikan pernyataan berupa “kenapa Amin Rais membenci saya saya kan tahu orang-orang saya diracunin waktu pemilu 2000 berapa itu 2019 2019 19 saya tahu,” di hadapan peserta rapat.
Dirinya meyakini bahwa ratusan petugas penyelenggara pemilu pada tahun 2019 meninggal akibat adanya tindakan sabotase sistematis dari pihak tertentu.
Data jumlah korban meninggal sempat dikoreksi oleh Profesor Siti Zuhro yang menyebutkan angka kehilangan nyawa tersebut mencapai lebih dari 800 orang petugas.
Selain tragedi pemilu, forum tertutup tersebut juga menyinggung kasus bentrokan KM 50 yang menewaskan sejumlah pengikut Habib Rizieq Shihab.
Syahganda Nainggolan menilai rentetan peristiwa maut di masa pemerintahan Joko Widodo tersebut memiliki kemiripan dengan metode pergerakan kelompok PKI zaman dulu.
Meskipun menyadari adanya rentetan peristiwa kelam tersebut, Kepala Negara menegaskan sikap politiknya untuk tidak terlalu terpaku pada persoalan masa lalu.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan penegasan berupa “Saya enggak mau cepat-cepat lihat spion saya mau lihat ke depan dulu pertarungan kita besar gitu.” saat menanggapi ulasan peserta diskusi.
Kebijakan strategis ini diambil demi menjaga stabilitas nasional agar pemerintah bisa fokus menghadapi tantangan pembangunan yang jauh lebih besar di masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok