Berita, Timur Tengah

Berlangsung Alot, Negosiasi Amerika - Iran Temui Jalan Buntu, Kami Memiliki Niat Baik, Namun Kami Tidak Percaya AS?

Repelita.net

12 April 2026 13:51 WIB • 984 view

Berlangsung Alot, Negosiasi Amerika - Iran Temui Jalan Buntu, Kami Memiliki Niat Baik, Namun Kami Tidak Percaya AS?
Foto: Istimewa

Repelita Islamabad - Perundingan sengit antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan akhirnya tamat tanpa menghasilkan sebuah kesepakatan berarti.

Kegagalan ini disebabkan oleh jurang perbedaan yang sangat lebar terkait sejumlah isu strategis yang menjadi inti dari pembicaraan.

ADVERTISEMENT

Meskipun demikian, proses dialog tidak sepenuhnya menemui jalan buntu karena kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan.

Ronde kedua negosiasi telah dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya dengan harapan dapat menemukan titik temu yang saling menguntungkan.

Suasana perundingan di Islamabad sejak awal sudah terasa sangat dingin dan penuh kecurigaan.

Republik Islam Iran datang dengan membawa luka sejarah serta rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Republik Islam, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran menyampaikan bahwa meskipun pihaknya datang dengan niat baik, kepercayaan kepada mitra bicara adalah hal yang sangat mahal harganya.

"Kami memiliki niat baik, namun kami tidak percaya (AS)," ujar Ghalibaf mengutip pernyataannya yang dilansir Kompas.tv.

Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat bukanlah tanpa alasan yang jelas dan beralasan.

Republik Islam menuding Amerika Serikat telah melanggar tiga klausul kunci dari proposal 10 poin yang diajukan Teheran bahkan sebelum perundingan dimulai.

Poin-poin pelanggaran tersebut meliputi ketidakpatuhan Amerika Serikat terhadap gencatan senjata di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Teheran oleh drone, serta upaya untuk mengingkari hak Iran atas pengayaan uranium.

"Sayangnya, pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan, dan pelanggaran komitmen," tegas Ghalibaf menggambarkan betapa dalamnya jurang distrust yang harus dijembatani.

Salah satu ganjalan terbesar dalam negosiasi ini adalah masalah kedaulatan atas Selat Hormuz.

Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menuntut agar jalur pelayaran minyak dunia itu dibuka bebas tanpa syarat apa pun.

Trump bahkan dengan keras memperingatkan Iran agar tidak memungut biaya kepada kapal tanker yang melintas di selat tersebut.

Namun, bagi Iran, Selat Hormuz adalah kedaulatan penuh mereka yang tidak bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun.

Teheran bahkan baru-baru ini mengumumkan regulasi baru untuk mengatur lalu lintas kapal dan menciptakan rute transit alternatif.

Mereka merasa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mengatur halaman belakang rumah mereka sendiri.

Selain masalah Selat Hormuz, isu program nuklir juga menjadi ganjalan klasik yang tak kunjung usai.

Amerika Serikat menuntut penghentian total program pengayaan uranium yang dilakukan oleh Iran.

Sebaliknya, Iran bersikeras bahwa sebagai penandatangan Non-Proliferation Treaty (NPT), mereka memiliki hak penuh untuk memanfaatkan nuklir untuk tujuan sipil.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung