Berita, Internasional

Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Wilayah Udara untuk Serang Iran, Teguh pada Hukum Netralitas

Repelita.net

03 April 2026 19:23 WIB • 957 view

Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Wilayah Udara untuk Serang Iran, Teguh pada Hukum Netralitas
Foto: Istimewa

Repelita Wina - Austria menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah udaranya dalam rangka melancarkan operasi militer melawan Iran, dengan alasan kuat berupa hukum netralitas yang telah lama diterapkan negara tersebut.

Pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Pertahanan Austria mengonfirmasi adanya beberapa permintaan serupa dari Washington, meskipun ia tidak menyebutkan jumlah pastinya, demikian laporan dari penyiar publik Austria, ORF, seperti dikutip oleh Anadolu.

ADVERTISEMENT

Austria yang selama ini mempertahankan kebijakan netralitas militer yang telah berlangsung lama belum memberlakukan larangan umum terhadap penerbangan pesawat Amerika Serikat.

Namun pemerintah Wina sedang meninjau setiap permintaan secara cermat berdasarkan kasus per kasus, menurut pernyataan resmi kementerian pertahanan setempat.

Partai oposisi Sosial Demokrat juga menyerukan pemerintah Austria untuk mempertahankan pendiriannya saat ini dalam menolak permintaan Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Klaudia Tanner seharusnya tidak menyetujui satu pun penerbangan militer AS ke Teluk, kata Sven Hergovich, kepala SPO di Austria Hilir.

Ia juga seharusnya tidak menyetujui penerbangan transportasi atau dukungan logistik lainnya dalam bentuk apa pun, tegas Hergovich.

Sama seperti yang dilakukan oleh Spanyol, Prancis, Italia, dan Swiss, Austria harus bersikap tegas karena perang ini merusak kepentingan ekonomi Austria, Eropa secara keseluruhan, dan perdamaian dunia, ujarnya.

Awal pekan ini, Spanyol dilaporkan telah menutup wilayah udaranya untuk semua penerbangan militer yang terkait dengan konflik Iran.

Sementara itu Italia juga menolak permintaan pesawat Amerika Serikat untuk mendarat di pangkalan militer yang berlokasi di Sisilia.

Presiden Trump sendiri sebelumnya mengakui bahwa Prancis telah menutup wilayah udaranya dari penerbangan militer AS yang menuju ke Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan udara bersama terhadap Iran sejak tanggal 28 Februari 2026 yang lalu.

Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.900 korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat berpangkalan aset militer AS.

Serangan balasan Iran itu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan, sekaligus mengganggu pasar energi global serta jalur penerbangan internasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung