Repelita [Jakarta] - Pengunduran diri kadet Asma Wafa Andina setelah dinyatakan lulus seleksi Fakultas Kedokteran Universitas Pertahanan (Unhan) menjadi sorotan publik.
Dalam tulisan M Rizal Fadillah, keputusan tersebut dikaitkan dengan persoalan penggunaan hijab yang disebut menjadi alasan Asma memilih mundur dari pendidikan kedokteran.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kebebasan beragama dan mendorong desakan agar pihak Unhan memberikan penjelasan secara terbuka.
Ia menilai persoalan tersebut semakin serius apabila ketentuan mengenai larangan hijab memang tidak memiliki dasar hukum tertulis yang jelas.
M Rizal juga berpandangan bahwa penggunaan hijab tidak berkaitan dengan kemampuan seseorang menjalankan tugas di bidang pertahanan maupun profesi dokter militer.
Ia menilai keputusan Asma untuk mengundurkan diri justru menunjukkan keteguhan dalam memegang prinsip pribadi dan keagamaan.
Dalam tulisannya, M Rizal menyebut persyaratan membuka hijab yang disebut baru diketahui kemudian sebagai tindakan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kedisiplinan dan integritas yang semestinya dijunjung institusi pertahanan.
Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan Tri Pola Dasar pendidikan Unhan, khususnya mengenai pembentukan karakter insan pertahanan yang berintegritas serta memiliki jiwa bela negara.
Menurutnya, kepatuhan terhadap keyakinan agama seharusnya tidak diposisikan berlawanan dengan pembentukan karakter dan semangat bela negara.
M Rizal kemudian membawa sejumlah tokoh sejarah perjuangan Indonesia sebagai pembanding mengenai hubungan antara keyakinan, moral, dan perjuangan mempertahankan bangsa.
Ia menyinggung semangat takbir Bung Tomo yang dinilainya mampu membangkitkan perlawanan serta keyakinan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Nama Jenderal Soedirman juga disebut dalam tulisan tersebut sebagai figur yang menjalankan perjuangan gerilya dengan landasan moral dan keagamaan.
Atas dasar itu, M Rizal mengingatkan agar Unhan tidak meninggalkan nilai moral, agama, serta semangat perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah pertahanan Indonesia.
Ia bahkan menggunakan istilah “Universitas Hantu” sebagai kritik keras terhadap institusi apabila nilai-nilai tersebut justru diabaikan.
Sorotan tersebut juga dikaitkan M Rizal dengan perkara dugaan permainan biaya penerimaan mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman yang disebut telah menyeret rektor dan sejumlah pihak dalam penanganan KPK.
Menurutnya, keputusan Asma Wafa Andina seharusnya menjadi momentum bagi pimpinan Unhan untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan tata kelola pendidikan.
M Rizal menegaskan kritik tersebut sebagai peringatan agar lembaga pendidikan pertahanan tidak kehilangan arah dalam menjaga integritas dan nilai kebangsaan.
“Jangan jadikan Unhan sebagai Universitas Hantu yang terus bergentayangan menyuburkan perilaku korup dengan berbaju pertahanan.”
“Hantu memang senantiasa takut dan menjauh dari nilai-nilai agama.”(*)
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 24 Agustus 2026
Editor: 91224 R-ID Elok