Berita, Nasional

Anies Sentil Pemerintah Soal Rupiah Ambles: “Data Dipoles, Rakyat yang Menanggung Krisis” Tapi Respons Pejabat Terlalu Enteng

Repelita.net

20 May 2026 16:35 WIB • 1,771 view

Anies Sentil Pemerintah Soal Rupiah Ambles: “Data Dipoles, Rakyat yang Menanggung Krisis” Tapi Respons Pejabat Terlalu Enteng
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam dialamatkan oleh Anies Baswedan terhadap dinamika stabilitas moneter nasional seiring dengan kejatuhan nilai tukar rupiah yang kian terpuruk di hadapan mata uang dolar Amerika Serikat.

Melalui penyampaian audiovisual yang diunggah lewat akun media sosial Instagram pribadi miliknya pada hari Rabu, 20 Mei 2026, dirinya menegaskan bahwa gejolak finansial ini merefleksikan potret riil ketahanan domestik yang sedang tidak baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini memaparkan bahwa jajaran pemangku kebijakan berkewajiban menyajikan jaminan kepastian yang konkret kepada para pelaku pasar global maupun domestik, alih-alih terus melontarkan narasi penenang yang bersifat artifisial.

“Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula, tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran, dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa,” kata Anies.

Tokoh intelektual tersebut mendeteksi adanya kebiasaan buruk dari pihak otoritas yang enggan menampilkan postur komprehensif mengenai kondisi riil dari laporan perekonomian negara kepada khalayak luas.

Ia mensinyalir adanya skema pemilahan fakta di mana aparatur kementerian cenderung memoles serta memamerkan capaian bermotif positif saja, sementara indikator fundamental yang memburuk sengaja disembunyikan rapat-rapat.

“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan,” ujarnya.

Dampak dari amblesnya kurs mata uang garuda hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah ini dituding menjadi pemicu utama di balik meroketnya harga aneka komoditas pangan pokok yang harus ditanggung masyarakat.

Beban hidup warga kian diperparah oleh fenomena menciutnya lapangan pekerjaan baru bagi angkatan muda, yang berjalan beriringan dengan penurunan drastis pada indeks daya beli riil masyarakat di lapisan bawah.

Kombinasi komplikasi keuangan di dalam negeri tersebut diproyeksikan bakal menghadapi tantangan yang jauh lebih eskalatif akibat akumulasi tekanan eksternal, mulai dari memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah hingga ancaman iklim.

“Tantangan di depan juga masih panjang, geopolitik yang memanas, konflik membayang di Timur Tengah, dan para ilmuwan mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan itu sudah ada di depan mata,” tuturnya.

Beliau mengibaratkan hantaman berbagai persoalan makro yang datang secara simultan ini sebagai ujian berlipat ganda yang membutuhkan keseriusan penuh penanganan agar perahu ekonomi nasional tidak karam.

“Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan maka beratnya berlipat,” sambungnya.

Anies Baswedan turut menyesalkan perangai sejumlah menteri dan pejabat negara yang dinilai kurang memiliki empati serta kepekaan sosial atas beban berat yang tengah dipikul oleh rakyat kecil saat ini.

Dirinya mengkritik keras respons verbal dari para elit birokrat yang kerap menganggap enteng situasi krisis moneter, bahkan tidak jarang melempar gurauan spekulatif yang berujung pada ketidakpastian regulasi.

“Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda,” jelasnya.

Dampak dari karut-marutnya pola komunikasi publik tersebut ditengarai memicu kebingungan massal di kalangan pelaku usaha yang berujung pada aksi penahanan modal oleh para investor, bahkan sebagian memutuskan keluar.

“Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur,” lanjutnya.

Ia memungkasi penjelasannya dengan mengecam adanya disparitas kebijakan fiskal, di mana sektor birokrasi atas tetap pamer kemewahan anggaran sedangkan lapisan masyarakat bawah dipaksa menanggung beban pengetatan.

“Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung