Repelita Jakarta - Kehadiran mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam perayaan hari lahir ke-84 Jusuf Kalla memicu perbincangan hangat di kalangan pengamat politik nasional.
Langkah politik mantan calon presiden tersebut dinilai memuat pesan simbolis yang cukup kuat di tengah dinamika perselisihan antara sang mantan wakil presiden dengan sejumlah pegiat media sosial.
ADVERTISEMENT
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai bahwa sanjungan tinggi yang dilayangkan oleh mantan menteri pendidikan tersebut memiliki dampak politik tidak langsung bagi para pengkritik senior Golkar tersebut.
Dalam analisisnya pada Senin, 18 Mei 2026, Erizal menjabarkan implikasi sosiopolitik dari momentum tasyakuran tersebut, “Tanpa menyinggung itu, pujian Anies terhadap JK, secara tidak langsung membenamkan mereka,” terangnya.
Dalam acara tersebut, Anies menegaskan peran vital sang tokoh dalam meredam konflik berdarah di berbagai wilayah konflik tanah air sekaligus menepis tudingan miring yang diarahkan kepada mentor politiknya.
Merespons pandangan subjektif bernada kekaguman dari mantan orang nomor satu di Jakarta tersebut, Erizal memberikan konfirmasi normatif, “Sehebat itukah JK di mata Anies Baswedan? Iya,” tutur dirinya.
Kendati demikian, narasi pengagungan yang terlalu eksklusif tersebut dinilai berpotensi memicu bias sejarah sosiopolitik serta mengabaikan kontribusi dari figur sentral lain yang memegang kendali kekuasaan eksekutif tertinggi kala itu.
Model sanjungan mutlak semacam ini dinilai mirip dengan riwayat dinamika politik masa lalu yang sempat memicu keretakan hubungan antara sang wakil presiden dengan Susilo Bambang Yudhoyono.
Erizal melayangkan pertanyaan kritis mengenai porsi kontribusi perdamaian yang semestinya dibagi secara adil kepada sang kepala negara, “Masak tak ada peran SBY di Aceh sebagai Presiden?” cetusnya mempertanyakan kelogisan narasi sejarah.
Kedekatan historis antara kedua tokoh ini memang sudah mengakar sejak lama, di mana sang mantan gubernur mengagumi etos kerja seniornya yang dinilai selalu produktif dan kaya akan gagasan inovatif setiap saat.
Namun di sisi lain, catatan historis menunjukkan bahwa rekam jejak kesuksesan elektoral sang saudagar asal Makassar tersebut tidak pernah lepas dari bayang-bayang figur kuat yang didampinginya dalam bursa pemilu.
Fakta empiris membuktikan bahwa ketika sang tokoh mencoba maju sebagai figur utama dalam kontestasi elektoral nasional tanpa sokongan koalisi penguasa, raihan suaranya justru merosot tajam.
Mengenai realitas politik dalam sejarah pemilu terdahulu, Erizal memberikan rincian data kegagalan taktis tersebut, “JK sendirian, didampingi Wiranto, terbukti kalah telak,” kata dirinya memaparkan.
Kalkulasi politik pragmatis dinilai menjadi alasan utama di balik sikap loyal yang dipertontonkan demi mengamankan basis dukungan finansial maupun modal politik menjelang kontestasi pilpres periode mendatang.
Erizal menutup analisisnya dengan menegaskan pandangan sang mantan gubernur yang memosisikan tokoh senior tersebut sebagai kiblat kepemimpinan bagi generasi penerus, “JK adalah contoh pemimpin yang layak diteladani generasi muda, menurut Anies,” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok