Berita, Timur Tengah

Ancaman Bom Trump vs Penolakan Iran: Diplomasi di Ujung Tanduk Jelang Deadline Gencatan Senjata

Repelita.net

21 April 2026 14:27 WIB • 1,016 view

Ancaman Bom Trump vs Penolakan Iran: Diplomasi di Ujung Tanduk Jelang Deadline Gencatan Senjata
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya tidak akan bernegosiasi di bawah bayang-bayang ancaman dari pihak Amerika Serikat.

Ia menegaskan bahwa diplomasi hanya dapat membuahkan hasil jika didasarkan pada rasa hormat dan kepentingan bersama.

ADVERTISEMENT

Bukan melalui cara pendiktean dari Washington yang selama ini merugikan pihak Iran.

Bersamaan dengan itu, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan kartu-kartu baru di medan perang.

Kartu-kartu baru itu akan segera dimainkan jika negosiasi dengan Amerika Serikat mengalami kegagalan total.

Peringatan keras ini muncul di tengah ketegangan yang memuncak menjelang berakhirnya gencatan senjata dua minggu pada hari Rabu besok.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik global dengan ancaman barunya.

Menjelang berakhirnya gencatan senjata yang rapuh dengan Teheran, Trump melontarkan ancaman yang memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali perang terbuka.

Dalam percakapan dengan wartawan PBS News, Trump memperingatkan bahwa banyak bom akan mulai meledak jika tidak ada kesepakatan yang tercapai sebelum tenggat Selasa malam.

Pernyataan ini mempertegas sikap agresif Washington di tengah negosiasi damai yang masih abu-abu dan tidak jelas arahnya.

Sehari sebelumnya, kepada Fox News, Trump bahkan menyebut seluruh negara akan diledakkan jika Teheran menolak menandatangani kesepakatan.

Ia juga mengincar infrastruktur vital Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik sebagai target serangan utama.

Di sisi lain, Trump tetap membuka pintu negosiasi meskipun dengan nada yang sangat keras dan mengancam.

“Saya tidak akan membiarkan mereka memaksa Amerika Serikat untuk membuat kesepakatan yang tidak sebaik yang seharusnya,” tulisnya di Truth Social.

Namun hingga kini, detail dari kesepakatan yang dimaksud masih belum jelas dan penuh dengan spekulasi.

Pemerintah AS bersikukuh bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

Mereka juga menuntut pembukaan penuh Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Penutupan de facto selat tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari telah mengguncang pasar energi global secara signifikan.

Harga minyak melonjak tajam, memberi Iran daya tawar strategis yang sangat berharga.

Kondisi ini sekaligus memicu respons keras dari AS berupa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump bahkan mengklaim bahwa blokade laut yang dilakukan militer AS itu benar-benar menghancurkan perekonomian Iran.

Ia menegaskan tidak akan mencabut blokade tersebut sebelum kesepakatan damai tercapai.

Sementara itu, upaya diplomasi masih berjalan di tengah ketidakpastian yang tinggi.

Delegasi AS dikabarkan bersiap menuju Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai.

Pertemuan pertama selama 21 jam sebelumnya berakhir tanpa hasil yang berarti.

Delegasi tersebut akan kembali dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.

Ia akan didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam misi diplomatik ini.

Meskipun demikian, partisipasi Iran dalam perundingan masih menjadi tanda tanya besar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk menghadiri negosiasi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung