Berita, Nasional

Alumni Kampus Singapura Angkat Suara Jawab Polemik Ijazah dan Jenjang Pendidikan Wapres Gibran

Repelita.net

14 October 2026 11:32 WIB • 49 view

Alumni Kampus Singapura Angkat Suara Jawab Polemik Ijazah dan Jenjang Pendidikan Wapres Gibran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Polemik seputar riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu tanggapan dari alumni Management Development Institute of Singapore, Dian Hunafa.

Sosok seleb TikTok pemilik akun @fearlessbarb tersebut menyampaikan pandangannya mengenai seluk-beluk sistem perkuliahan di tempatnya menimba ilmu.

ADVERTISEMENT

Sorotan publik mengemuka usai Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan dokumen kesetaraan tingkat SMA milik mantan Wali Kota Surakarta tersebut.

Dian yang merupakan lulusan program Mass Communications tahun 2021 mengaku tergerak merespons opini publik yang menyudutkan reputasi almamaternya.

Awalnya ia membuat rekaman video pada tahun 2023 lantaran merasa tergelitik oleh pernyataan pakar telematika Roy Suryo yang mempertanyakan kerja sama kampus Singapura dan Inggris.

"Video yang viral sebelumnya adalah pertama itu video saya di tahun 2023, karena waktu itu saya tergelitik dengan pernyataan Bapak Roy Suryo yang bilang sambil tertawa bilang, 'Mana mungkin kuliah di Singapura tapi ijazahnya dari Inggris. Haha, mana bisa kayak gitu.'," kata Dian, dalam program Saksi Kata yang diunggah di kanal YouTube Tribunnews, Jumat (9/10/2026).

Melalui tayangan tersebut, Dian memperlihatkan deretan fasilitas fisik kampus yang lengkap serta menjelaskan keharusan perguruan tinggi swasta Singapura menggandeng mitra luar negeri.

"Saya langsung ke kampus saya di tahun 2023, saya bikin video di situ, ini lho kampus MDIS. Kampusnya tuh enggak ruko. Ini gedung perkuliahan ada sekolahnya, ada lapangan olahraganya, lengkap, komplet kampus ya, bukan ruko," tutur Dian.

"Kemudian di situ ada kayak dinding, menjelaskan MDIS bekerjasama sama universitas mana aja sih, karena di Singapura sendiri yang namanya private education atau kampus swasta itu wajib bekerjasama dengan institusi lain di luar negeri."

"Jadi, kalau kampus swasta itu cuma bisa mengeluarkan ijazah setara diploma. Istilahnya macam-macam ya, ada diploma, higher diploma, advanced diploma."

"Tapi kalau untuk tingkat S1 atau bachelor, magister, dan ke atas itu harus bekerjasama dengan universitas lain di luar negeri. Itu semua kampus swasta di Singapura seperti itu."

Regulasi ketat dari pemerintah Singapura diterapkan guna menjamin kesetaraan standar mutu sekaligus mencegah penerbitan dokumen akademik tanpa izin resmi.

Dian juga menerangkan perbedaan mendasar jenjang persekolahan di Negeri Singa yang menerapkan sistem primary school serta secondary school.

"Di situ, video kedua saya menjelaskan soal gimana perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di Singapura," papar Dian.

"Saya di situ jelaskan kalau di Indonesia memang orang familiar dengan tingkat pendidikan SD, SMP, SMA. Singapura itu adanya primary school, secondary school."

Siswa sekunder dapat mengambil ujian jalur A Level menuju Junior College atau jalur O Level untuk menempuh tahap foundation maupun politeknik sebelum universitas.

"Dan masyarakat Singapura sendiri bebas memilih, apakah dia mau masuk ke universitas negeri atau universitas swasta. Kalau universitas negeri tentu ada tesnya lebih sulit karena persaingannya tuh global," ujar Dian, melanjutkan.

"Enggak cuma warga Singapura sendiri, yang sudah paham dengan kurikulum pendidikannya, siap bertarung untuk masuk universitas negeri di Singapura, ada juga warga negara lain yang memang mau belajar di Singapura."

Ia mengaku tersinggung atas berbagai tudingan negatif yang memojokkan institusi pendidikannya hanya karena sentimen terhadap sosok Gibran.

"Sekolah swasta di Singapura itu sebenarnya banyak sekali. Tapi, memang orang-orang, semua mata, tertuju ke MDIS karena kebetulan Bapak Gibran kuliahnya di MDIS," ujar Dian.

"Semua orang menghina atau melecehkan institusi tersebut, kampus tersebut karena kebetulan orang yang tidak mereka sukai bersekolah di sana. Padahal di Singapura sendiri ada banyak sekali kampus yang bahkan rankingnya tuh lebih rendah dari MDIS."

Ia merasa keberatan apabila kerja keras seluruh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik disepadankan begitu saja dengan kursus singkat.

"Sebagai alumni tentu saya agak tersinggung ya, karena kan kita masuk ke sebuah institusi itu baik negeri ataupun swasta ada perjuangan di situ," kata Dian.

"Ada kita ikut kelas, bikin tugas, dan hari-hari melelahkan yang kami jalani untuk mendapatkan sebuah degree. Ketika degree kami istilahnya dihina atau dianggap kursus, tentu saya merasa tersinggung."

Presiden ke-7 RI Joko Widodo turut menegaskan bahwa putra sulungnya telah menyelesaikan masa studi perguruan tinggi hingga meraih gelar S1.

“Saya kira setiap negara sistemnya berbeda-beda. Dan yang paling penting Mas Wapres ini kan sudah menyelesaikan S1,” ungkap Jokowi saat ditemui di kediamannya, Kamis (8/10/2026).

Mantan Kepala Negara menerangkan adanya rute pendidikan khusus seperti pathway program UTS Insearch yang dapat memfasilitasi jenjang berikutnya.

“Di setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda. Kalau kita tahapan dari bawah SD, SMP, SMA, S1 atau ada di sini juga Diploma. Di luar ada juga sistemnya sendiri. Ada yang seperti kita SD, SMP kemudian Secondary School kemudian masuk ke universitas,” tuturnya.

“Tapi ada juga yang sistem Pathway. Kemudian baru masuk ke Diploma dan S1-nya. Kalau menyelesaikan S1 pasti sudah melewati tahapan sebelumnya kalau di sini SMA sudah selesai. Kalau belum kan nggak mungkin bisa daftar S1,” jelasnya.

Jokowi menambahkan bahwa dirinya menghormati penuh segala keputusan hukum beserta seluruh pertimbangan dari Mahkamah Konstitusi.

Gibran sendiri membantah kabar yang menyebut dirinya tidak menuntaskan sekolah menengah atas di luar negeri sebelum memasuki jenjang akademik tinggi.

"Ya kalau saya enggak lulus SMA, kan saya enggak mungkin bisa kuliah," kata Gibran saat meninjau pameran Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).

Putra sulung Jokowi itu memastikan gelar sarjananya didapat melalui proses pembelajaran resmi dan siap menindaklanjuti temuan lembaga peradilan.

"Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura. Ya itu. Nanti segera kami follow up, ya," beber dia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung