Repelita [Jakarta] - Kawasan Patung Kuda, Monas, dipenuhi massa aksi mahasiswa dari berbagai universitas yang menyuarakan mosi tidak percaya pada Jumat (17/7/2026).
Para peserta tampil tampil mencolok dengan mengenakan atribut busana tradisional seperti kebaya serta kain sarung sebagai medium perlawanan pesan yang merakyat.
ADVERTISEMENT
Lili, mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta, tampil anggun sekaligus tegas dengan balutan kebaya berwarna hijau mint di tengah kepadatan massa.
Pemilihan busana tersebut rupanya terinspirasi dari semangat perjuangan RA Kartini yang tetap teguh dalam melawan ketidakadilan meski terikat pada norma feminitas zamannya.
“Di flayernya itu 'bebas melawan' dan aku memilih kebaya itu karena Kartini walaupun dia feminin atau walaupun dia memakai kebaya tapi dia tetap melawan. Melawan sistem atau patriarki zamannya dia begitu,” ungkap Lili saat ditemui di lokasi.
Ia menegaskan bahwa keikutsertaannya merupakan bentuk keresahan mendalam terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Kita itu udah muak banget dan makanya ada namanya Mosi Tidak Percaya Prabowo-Gibran,” tuturnya.
"Kenapa Prabowo-Gibran? Karena kita bukan cuman ke satu orang aja, bukan cuma ke instansi atau bukan cuma ke satu individu, tapi itu juga satu paket," tambah mahasiswi tersebut.
Di sisi lain, Wibisono Sinaga dari Serikat Tahanan Politik memilih hadir dengan balutan sarung hijau dan sandal jepit sebagai identitas perjuangannya.
“Saya pakai sarung nih sebenarnya tadi setelah Jumatan langsung ke sini sih,” ujar Wibisono menjelaskan alasan praktis sekaligus filosofis di balik pilihannya.
Baginya, kain sarung bukan sekadar pakaian melainkan simbol kedekatan dengan rakyat kecil yang sedang terdampak oleh berbagai kebijakan pemerintah.
“Saya bawa merakyat pakai sarung,” jelasnya mengenai makna di balik penampilan yang sederhana namun sarat akan kritik sosial.
Wibisono menilai situasi politik nasional saat ini berada dalam kondisi darurat yang menuntut keterlibatan aktif warga negara untuk melakukan pengawasan.
“Kita melihat pemerintahan hari ini tidak baik-baik saja. Kalau kita membiarkan hal ini terjadi maka pemerintah akan semakin berkuasa dan sewenang-wenang dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sangat merugikan rakyat,” tutupnya.
Terdapat tiga tuntutan besar yang dibawa dalam aksi penyelamatan kali ini, yakni merombak total sistem negara, menyelamatkan sektor pendidikan, serta menjamin kelangsungan masyarakat sipil.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok